Tuesday, 18 June 2019

Berita

Berita Utama

BP3TKI Tanjungpinang Fasilitasi Perawatan PMI Asal Indramayu Yang Terlantar di Bandara Hang Nadim Batam  

-

00.05 27 May 2019 292

Warti (37), seorang Pekerja Migran Indonesia, kondisi Warti yang tidak memungkinkan untuk bepergian menggunakan transportasi udara di Bandara Hang Nad

 

BNP2TKI, Tanjungpinang, (27/5/2019)____Warti (37), seorang Pekerja Migran Indonesia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bisa segera pulang ke halamannya di Indramayu, Jawa Barat. Ia dan suaminya Kartim (40) terpaksa ditolak keberangkatannya oleh salah satu maskapai penerbangan di Bandara Hang Nadim Batam, disebabkan kondisi Warti yang tidak memungkinkan untuk bepergian menggunakan transportasi udara. Kontan, kondisi tersebut membuatnya kaget, sebab ia tidak mempunyai keluarga di Batam untuk menginap, dan membuatnya terlunta-lunta di Bandara Hang Nadim, Kamis (16/5) yang lalu.

Informasi mengenai adanya PMI yang terlunta-lunta tersebut kemudian sampai ke telinga Direktur Sosialisasi Kelembagaan BNP2TKI, Servulus Bobo Riti. Informasi yang diperoleh Servulus melalui Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (ASPATAKI) Saiful Mashud tersebut, kemudian diteruskan kepada BP3TKI Tanjungpinang, yang membawahi wilayah kerja Batam.

Mendapati informasi dari Dirsoskel Penempatan, Kepala BP3TKI Tanjungpinang, Mangiring Hasoloan Sianaga segera memerintahkan jajarannya di P4TKI Batam untuk segera menelusuri kebenaran informasi ke Bandara Hang Nadim. Koordinator P4TKI Batam, Titi Delima Panjaitan yang langsung memimpin ke lapangan, akhirnya menemukan PMI Warti yang dimaksud bersama suaminya sedang ditampung di kantor satuan pengamanan Bandara Hang Nadim.

Saat ditemukan, petugas menemukan PMI Warti memang dalam keadaan yang cukup lemah, dan harus  didorong menggunakan kursi roda. Menurut keterangan pihak satuan pengamanan bandara, Warti ditolak oleh maskapai karena terindikasi mengidap penyakit gangguan pernafasan berat, yang akan sangat berisiko apabila dipaksakan untuk terbang menggunakan pesawat udara.

P4TKI Batam kemudian bergerak cepat dengan melakukan pemeriksaan medis kepada PMI Warti di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Setelah dilakukan pengecekan kesehatan, pihak Rumah Sakit Bhayangkara mengizinkan Warti untuk rawat jalan dan diberikan obat-obatan penunjang kesehatan kepada Warti. Kemudian Warti diinapkan di shelter P4TKI Batam, untuk persiapan upaya pemulangan ke daerah asal.

Esok harinya (17/5), upaya fasilitasi pemulangan terhadap Warti kembali dilakukan. Namun malangnya, pihak maskapai melalui dokter pemeriksa kesehatan maskapai kembali menolak Warti, dengan alasan yang sama, yakni masalah kesehatan. Meski sudah dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Bhayangkara, namun dokter menilai bahwa kondisi fisik Warti masih belum cukup kuat untuk diterbangkan menggunakan pesawat udara. Dokter kemudian menyarankan agar Warti memperoleh perawatan medis lebih lanjut terlebih dahulu di Rumah Sakit.

Menindaklanjuti saran dokter, Kepala Seksi Perlindungan BP3TKI Tanjungpinang, Yohan Mariana Gideon memberikan instruksi kepada petugas di lapangan untuk melakukan koordinasi dengan RSUD Embung Fatimah kota Batam untuk proses perawatan. Yohan mengatakan bahwa pihaknya akan mengawasi perkembangan perawatan kesehatan PMI Warti selama berada di RSUD Embung Fatimah.

“Kami akan mengirimkan petugas untuk bergantian menjaga dan mengawasi perkembangan perawatan kesehatan atas PMI Warti” ujar Yohan memberikan keterangan.

Hingga saat ini, PMI Warti masih mendapatkan perawatan secara intensif dari RSUD Embung Fatimah didampingi oleh suaminya Kartim.

“Proses pemulangan akan kembali dilakukan kepada Warti, apabila pihak RSUD Embung Fatimah benar-benar telah mengijinkan dan memberikan rekomendasi layak terbang kepada Warti. Tentunya menunggu kondisi kesehatan Warti sudah benar-benar pulih” tukas Yohan.

Menanggapi penanganan dan perawatan kesehatan terhadap PMI Warti, Kepala BP3TKI Tanjungpinang Magiring Sinaga mengapresiasi jajarannya khususnya tim P4TKI Batam yang langsung bergerak cepat dalam merespon informasi yang didapatkan.  Ia bahkan memuji timnya yang mendampingi pemeriksaan kesehatan PMI hingga larut malam, dan tetap mendampingi dan mengawasi perawatan PMI hingga saat ini di RSUD Embung Fatimah.

Sinaga beralasan, pemberian pujian tersebut diberikan sebagai pemompa semangat petugas di lapangan yang telah bekerja dengan respon cepat dan melakukan koordinasi dengan stakeholders terkait sesuai dengan SOP. Ia berharap, semangat bekerja dan melayani tersebut dapat terus dijaga dan ditingkatkan oleh petugas dan jajarannya di BP3TKI Tanjungpinang, demi pelayanan prima kepada Pekerja Migran Indonesia.

Mengenai informasi mengenai PMI Warti yang diperoleh dari pihak ke tiga seperti ASPATAKI, Sinaga berpendapat selaku salah satu unsur utama dalam pengelolaan PMI, keterlibatan ASPATAKI dalam banyak aspek tentu sangat diharapkan oleh pemerintah khususnya BNP2TKI. Oleh sebab itu ia mengapresiasi informasi yang  diberikan oleh ASPATAKI dan Dirsoskel Penempatan kepada pihaknya, sehingga jajarannya dapat segera bertindak cepat.

Apresiasi tidak lupa pula ia tujukan kepada pihak Bandara Hang Nadim dan Kepolisian Sektor Bandara yang telah melakukan penampungan dan pengamanan sementara kepada PMI Warti sebelum akhirnya dijemput oleh tim P4TKI Batam. Ke depannya, ia menginstruksikan kepada jajarannya khususnya seksi Perlindungan dan Pemberdayaan PMI serta unit kerja P4TKI Batam dan P4TKI Tanjung Balai Karimun untuk lebih meningkatkan koordinasi bersama stakeholders terkait di embarkasi dan debarkasi PMI. Sinaga berpendapat, salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan fungsi helpdesk yang ada di setiap embarkasi dan debarkasi, dan meningkatkan keaktifan petugas lapangan dalam berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Kita harapkan dengan eksistensi helpdesk di setiap embarkasi dan debarkasi, instansi lain di Bandara maupun pelabuhan tidak lagi bingung dalam menyampaikan informasi terkait penanganan PMI,” tutup Sinaga (BP3TKI Tanjungpinang/Irf)