Monday, 20 May 2019

Berita

Berita Utama

BP3TKI Tanjungpinang Mengawal dan Memproses Penanganan Musibah Tenggelamnya Kapal PMI Nonprosedural di Batam

-

00.05 14 May 2019 111

-

Tanjungpinang, BNP2TKI, Selasa (14/5/2019)___Musibah itu terjadi lagi, selang dua tahun sejak peristiwa terakhir. Kapal  yang membawa PMI nonprosedural karam saat mengangkut PMI yang hendak kembali ke Indonesia. Kejadian ini kembali menambah duka dalam pengelolaan pekerja migran di Indonesia, sekaligus menjadi pelajaran yang teramat berharga untuk ke sekian kalinya, agar pekerja migran menghindari praktik bekerja secara non prosedural.

Tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh  Muhammad Sabri, bahwa kesedihan akan menghampirinya. Niat menunaikan ibadah puasa sekaligus merayakan lebaran di kampung halaman bersama istri dan adik sepupunya berujung kepada penyesalan. Malam itu, kapal yang ditumpanginya karam setelah berkali-kali diterjang oleh gelombang. Naas, istri yang dicintainya, harus meregang nyawa di tengah lautan.

Sabri bersama delapan orang lainnya yang hampir semuanya berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam tersebut mempunyai tujuan yang sama mulia, hendak menunaikan ibadah puasa secara lebih khusuk di kampung halaman. Takdir mempertemukan mereka berada dalam sebuah perahu pancung bermesin tempel, di Perairan Selat Malaka, Kepulauan Riau, Minggu (5/5) malam.

Suara takbir tanda dimulainya shalat Tarawih menandai awal perjalanan mereka. Sabri, bersama istri dan sepupunya yang masing-masing telah bertahun-tahun di negeri seberang, diantar seorang tekong menuju pelabuhan tikus di Sungai Rengit, Malaysia. Di sana mereka bertemu dengan lima orang lainnya yang masing-masing tidak mengenal satu sama lain. Tujuan mereka sama, hendak menyeberangi lautan Selat Malaka menuju perairan Teluk Nongsa di Batam. Agar setelah sampai di Batam, mereka segera bisa menuju kampung halaman masing-masing yang telah dirindukan.

Selang beberapa saat, kapal yang ditunggu-tunggu pun datang hendak membawa mereka melintasi laut biru untuk meraih rindu. Namun, tidak sesuai yang diharapkan, kapal yang datang hanyalah sebuah perahu berukuran kecil. Sedangkan sebelumnya tekong menjanjikan kapal yang berukuran besar. Tapi apa daya, hendak balik kanan pun nyali mereka ciut, sebab tidak jauh dari sana, ada pos militer Malaysia yang melakukan pengawasan. Sedangkan tekong yang mengantar, kabur tanpa jejak usai menerima uang sejumlah 1300 ringgit dari masing-masing calon penumpang.

Tak ayal, terpaksa mereka menaiki kapal tersebut. Dalam benak mereka, hanya itulah alternatif yang tersisa. Pukul 21.00 waktu setempat, mulailah kapal dengan muatan total 10 orang yang terdiri dari 8 orang PMI ditambah dua orang tekong kapal mengarungi arus perairan Selat Malaka. Selang 45 menit, perjalanan yang disertai rasa was-was tersebut akhirnya mencapai klimaksnya, saat perahu tidak kuasa lagi menahan hempasan gelombang. Lambung kapal bocor, airpun masuk dengan deras, dan seketika membenamkan kapal di lautan.

Setelah tenggelam, mereka berusaha menggapai satu-satunya ringboy/pelampung yang tersedia. Namun naas, Lindawati, Istri Sabri tidak kuasa melawan ganasnya arus laut, ia pun wafat di hadapan suaminya. Perjuangan selama kurang lebih 36 jam mereka lalui, sebelum salah seorang PMI bernama Fadlon berhasil diselamatkan nelayan di wilayah perairan Lagoi, Kabupaten Bintan pada hari Selasa (7/5) pagi. Dengan penemuan tersebut, dimulailah pencarian dengan skala besar yang melibatkan Polsek Bintan Utara, Polairud Polda Kepri, Basarnas Tanjungpinang, serta dibantu nelayan setempat.

Setelah pencarian selama lebih kurang satu hari tersebut, akhirnya dapat ditemukan  enam orang lainnya, di antaranya Sabri dan rekan-rekannya serta salah satu tekong. Di antara enam orang tersebut, terdapat juga jenazah Lindawati, yang kemudian dikarenakan situasi, dan kondisi dari jenazah, terpaksa dimakamkan di Tanjung Uban, Kabupaten Bintan. Sementara sisa tiga orang yang belum ditemukan, masih dalam pencarian oleh Basarnas hingga saat ini. Dari keterangan para penyintas, diperoleh informasi bahwa dari ketiga orang tersebut, terdapat seorang ibu bersama anak laki-lakinya berusia 13 tahun yang diduga berasal dari Jawa Timur, serta seorang anak buah kapal tekong berinisial A.

BP3TKI Tanjungpinang, selaku instansi pengelola PMI di Kepulauan Riau, turut aktif sejak awal kabar ditemukannya penyintas pada musibah tenggelamnya kapal PMI tersebut. Atas perintah Kepala BP3TKI Tanjungpinang, Mangiring Sinaga, BP3TKI Tanjungpinang mengutus petugas perlindungan untuk mengawal kasus tersebut selama 24 jam non-stop. Sinaga menginstruksikan kepada petugas agar selalu melaporkan situasi terkini, serta menjalin komunikasi dan koordinasi dengan seluruh stakeholders yang terlibat, agar terjadi sinergitas dalam proses pencarian korban, serta proses penanganan penyintas musibah dapat berjalan dengan cepat dan baik.

Instruksi tersebut dilaksanakan oleh petugas BP3TKI di lapangan. Seuai arahan, petugas ikut mengawasi dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dari awal hingga akhir. Bahkan petugas ikut dalam proses penguburan jenazah, serta ikut mengawal proses peralihan perkara dari wilayah hukum Polsek Bintan Utara ke wilayah hukum Korps Poairud Polda Batam. Dengan peralihan tersebut, para penyintas yang selamat, ikut dipindahkan dari Bintan menuju Batam menggunakan kapal Korps Polairud Polda Batam. Dalam setiap proses, petugas selalu berkoordinasi dengan baik bersama pihak Kepolisian yang menangani perkara.

Berkat kesigapan dan koordinasi yang baik tersebut, Kepolisian dapat menahan tekong, yang kemudian diketahui berinisial H, dan menjeratnya dengan Undang-undang 18 tahun 2017 tentang Pelindungan PMI. Selang dua hari sejak ditemukan terombang ambing di tengah lautan, para penyintas dapat diserahterimakan dari Korps Polairud Polda Kepri kepada BP3TKI Tanjungpinang di Batam.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan PMI, Yohan Mariana menyebutkan, setelah diserahterimakan kepada BP3TKI Tanjungpinang, pihaknya segera menyiapkan shelter P4TKI Batam untuk dapat menampung PMI sebelum dipulangkan ke daerah asal di Aceh. Menurut Yohan, shelter yang dilengkapi fasilitas anyar tersebut, sudah sepenuhnya siap untuk digunakan oleh para penyintas dalam beristirahat.

“Karena kondisi mereka yang masih lemah, dan keluarga di kampung sudah menunggu dengan cemas, kamipun segera mencarikan tiket untuk pemulangan pada hari Jumat (10/5) menggunakan pesawat udara” tutur Yohan.

Sementara itu, Mangiring Sinaga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak dan instansi yang telibat, yang menurutnya telah mampu mewujudkan kesiapsiagaan dalam tanggap bencana tenggelamnya kapal PMI secara baik dan lancar. Tak urung, iapun berterimakasih kepada pihak Kepolisian Resor Bintan dan Polsek Bintan Utara, Korps Polairud Polda Kepri, Basarnas Tanjungpinang, RSUD Tanjung Uban, serta unsur sipil seperti pihak Kelurahan, dan Kecamatan setempat, atas sinergi yang baik dalam penanganan PMI musibah kapal tenggelam tersebut.

“Meskipun selama ini belum pernah ada jalur koordinasi semacam satgas, ataupun pokja mengenai tanggap bencana tenggelamnya kapal PMI, namun seluruh instansi yang terlibat dapat menjalankan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya. Semuanya bergerak dengan sangat baik, atas nama kemanusiaan” ungkap Sinaga.

Dalam masa penampungan di shelter P4TKI Batam, turut meninjau kondisi para PMI korban kapal tenggelam ini, seorang senator (anggota DPD RI) asal Provinsi NAD, Sudirman, atau yang dikenal dengan Haji Uma, Kamis (9/5) malam. Kepada petugas yang mendampingi, Haji Uma menitipkan salam hormat kepada Kepala BP3TKI Tanjungpinang dan seluruh stakeholders yang terlibat atas respon cepat dan pelayanan yang sangat baik kepada para penyintas yang merupakan warga Aceh. Tak lupa ia memberikan testimoni dukungan melalui pesan video kepada BP3TKI Tanjungpinang agar senantiasa diperhatikan oleh pemerintah dalam fungsinya sebagai garda terdepan dalam pelindungan PMI di wilayah perbatasan dengan Johor Malaysia, serta ia memberikan apresiasi kepada shelter PMI BP3TKI Tanjungpinang yang dinilainya mempunyai kualitas pelayanan yang sangat baik.  (BP3TKI Tanjungpinang/Irf/Editor: Lily)