Monday, 24 February 2020

Berita

Berita Utama

Pentingnya Pengetahuan Mengenai Ekstrimisme bagi Pekerja Migran Indonesia

-

00.12 12 December 2019 327

-

Mataram, BNP2TKI (12/12/2019) - BP3TKI Mataram bersama Institute for Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (INFEST)  melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas instruktur Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk mencoba sebuah modul baru yaitu Modul Pencegahan Ekstremisme Kekerasan di Kalangan PMI dan Penguatan Mental dan Kepribadian. INFEST merasa persoalan ekstremisme kekerasan sudah mulai menyasar PMI.

Sejumlah data hasil penelitian dan pemberitaan yang mengungkap fakta penangkapan PMI yang dikorbankan kelompok ekstremisme kekerasan, semakin menguatkan bahwa PMI rentan terjebak kelompok ekstremis. Selain itu INFEST juga ingin melihat sejauh mana transfer informasi bagi instuktur mengenai ekstrimisme mengingat INFEST telah melaksanakan Training of Trainers (ToT) bagi empat orang instruktur PAP dari BP3TKI Mataram.

Plt Kepala BP3TKI Mataram, Noerman Adhiguna, mengungkapkan bahwa jumlah instruktur di BP3TKI Mataram sebanyak 44 orang. Sedangkan yang hadir di kegiatan ini sebanyak 22 orang yang merupakan instruktur telah berpengalaman serta memiliki sertifikasi BNP2TKI dan BNSP, sehingga dirasa mumpuni dalam menyerap informasi terkait ekstrimisme dan menyampaikannya kepada PMI. 

Noerman juga menambahkan bahwa NTB merupakan Provinsi ke-4 terbanyak  dalam hal penempatan PMI sehingga sudah seharusnya menjadi salah satu wilayah yang menjadi perhatian terkait pengetahuan kegiatan ekstrimisme bagi PMI.

Dalam kegiatan ini INFEST menghadirkan narasumber yang ahli dan berpengalaman mengenai kegiatan ekstrimisme, radikalisme dan terorisme. 

Pada hari pertama, kegiatan dibagi menjadi 2 sesi yaitu pemaparan materi dan praktek simulasi bagi instuktur. Pada sesi pertama, Direktur Pusat Rehabilitasi Korban NII/NII Crisis Center, Sukanto, memberikan pendalaman materi bagi para instruktur mengenai Peta ekstremisme kekerasan di Indonesia dan pengalaman korban indoktrinasi oleh kelompok Ekstrimisme kekerasan. Selanjutnya Sekretaris Lakpesdam PBNU, Marzuki Wahid memberikan materi mengenai modul pencegahan kekerasan ekstrim bagi pekerja migran di negara asal.

Pada sesi kedua, instruktur dibagi menjadi dua kelompok untuk mendiskusikan mengenai modul yang sudah disampaikan serta disimulasikan. Dalam simulasi para instuktur diharapkan dapat memahami modul dan dapat menyampaikan kepada PMI dengan bahasa yang sederhana namun dapat dipahami oleh para PMI, mengingat keterbatasan pendidikan PMI, serta waktu penyampaian materi pada saat OPP yang sangat terbatas. Selain itu, setelah simulasi secara bersama-sama melakukan evaluasi terhadap modul serta tata cara penyampaian materi kepada PMI.

Di hari kedua, dilaksanakan praktek penyampaian modul Pencegahan Ekstremisme Kekerasan di Kalangan PMI dan Penguatan Mental dan Kepribadian pada saat OPP. Dalam hal ini, INFEST melakukan pendampingan di kelas bagi para instruktur pada saat penyampaian materi. Sebagai bahan evaluasi, BP3TKI Mataram mengadakan pra test dan post test bagi PMI terkait pemahaman materi serta cara penyampaian materi kepada PMI oleh instruktur. 

Adapun hal-hal yang menjadi bahan evaluasi yakni teknik penyampaian materi dimana para instruktur diharapkan bisa lebih komunikatif dengan peserta dan dibutuhkan pendalaman materi terkait ekstrimisme. Pendalaman materi yang dimaksud adalah instruktur diharapkan dapat menggali informasi yang seluas-luasnya mengenai informasi yang terkait ekstrimisme.

Selain itu BNP2TKI juga perlu menyusun standar yang baku bagi seluruh modul materi OPP, tidak terkecuali modul Pencegahan Ekstremisme Kekerasan di Kalangan PMI dan Penguatan Mental dan Kepribadian. *** (Humas/PE/AN)