Monday, 22 July 2019

Berita

Berita Utama

Sinergitas Bank Indonesia dengan BNP2TKI pada Program Edukasi Keuangan dan Monitoring Remitansi Non Tunai Berakhir Rekening

-

00.07 5 July 2019 176

BNP2TKI bekerja sama dengan Bank Indonesia

Semarang, BNP2TKI (02/07/19) – Direktorat Pemberdayaan, Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Keuangan Inklusif, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, menyerahkan secara Simbolis Plakat kepada Direktur Pemberdayaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sebagai simbol penghargaan atas kerjasama Bank Indonesia dengan BNP2TKI di Mandiri University, Semarang, Jawa Tengah.

Penyerahan berupa plakat tersebut dilakukan usai pemaparan terkait edukasi remitansi non tunai dengan dana berakhir rekening oleh Rino Is Triyanto, Asisten Direktur Kelompok Elektronifikasi Transaksi Ritel, Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional, kantor Pusat Bank Indonesia. Diadakannya kegiatan edukasi ini diharapkan dapat  berkontribusi positif terhadap perekonomian lokal dan nasional, memberikan nilai tambah bagi PMI dan keluarganya, serta meningkatkan keuangan inklusif yang ditargetkan sebesar 75% pada tahun 2019.

Edukasi tersebut dibuka langsung oleh Kepala Divisi Sitem Pembayaran dan Keuangan inklusif, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Rini A.W.Hartanti. dihadiri Direktur Pemberdayaan BNP2TKI, A. Gatot Hermawan, Asisten Direktur Kelompok Elektronifikasi Transaksi Ritel Bank Indonesia, Kepala BP3TKI Semarang, dan Regional Business Support Head Region VII Bank Mandiri. Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi pagi dan siang dengan jumlah keseluruhan peserta sebanyak (100) orang Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dengan sebagaian besar negara penempatan Hongkong dan beberapa instruktrur dari BP3TKI Semarang.

Direktur Pemberdayaan BNP2TKI, A. Gatot Hermawan dalam arahannya menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat diperlukan untuk memberikan informasi terkait produk remitansi dari lembaga keuangan yang diharapkan secara bertahap dapat mengurangi transaksi cash to cash. Kondisi saat ini, menurutnya, menuntut para CPMI/PMI meyakini penggunaan jasa remitansi non tunai di negara penempatan selama mereka bekerja.

Dikatakan lebih lanjut, bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tindakan nyata dalam upaya membantu memudahkan para CPMI/PMI dan keluarganya guna mengelola keuangan secara baik sehingga setelah kembali ke tanah air, dapat mengolah pendapatannya hasil bekerja di luar negeri untuk kegiatan yang bersifat produktif, seperti membuka usaha warung.

Menurut Rini, dalam penjelasannya mengatakan bahwa,“Dalam implementasi remitansi di Indonesia, masih didapati sebesar 7% remitansi PMI dilakukan melalui penitipan kepada orang yang dipercaya (disebut praktik Hawala), meski praktik ini telah berkurang tetapi masih menimbulkan risiko yaitu mengurangi potensi pendapatan devisa negara serta tidak aman.

Berdasarkan data Survei Migrasi Internasional dan Remitansi Indonesia – Bank Dunia, Indonesia memiliki potensi PMI cukup besar, yaitu mencapai 9 juta orang atau setara dengan 7% dari total angkatan kerja Indonesia. PMI tersebut dikirim ke berbagai negara, dengan pengiriman terbesar ke Malaysia sebanyak 55% dari total PMI. Sementara dari sisi nilai, remitansi PMI menghasilkan pendapatan yang besar bagi Indonesia, yaitu mencapai USD 8,9 milyar (ekuivalen Rp118 triliyun) atau setara dengan 1% PDB Indonesia. Ke depan, diperkirakan pertumbuhan PMI tersebut akan semakin meningkat seiring dengan trend peningkatan demand di negara-negara tujuan PMI. Hal ini sejalan dengan perkiraan World Bank yang memproyeksikan remitansi akan terus bertumbuh sejalan dengan semakin tingginya migrasi penduduk akibat kondisi demografi, perubahan iklim, ekonomi dan globalisasi.

Dalam penyerahan plakat, Bank Indonesia berharap pemberian Penghargaan dan Apresiasi ini dapat menjadi pemicu terbentuknya kerjasama yang lebih baik dengan BNPTKI. ** (Humas/BP3TKI Semarang/Tha).