RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

TKI Asal Indramayu Terbaring di RSUD

Cetak
Selasa, 27 Juli 2010 02:45



TKI Asal Indramayu Terbaring di RSUD

Indramayu, BNP2TKI (26/7) -- Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terbaring lemas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat akibat disiksa oleh majikannya di Malasyia.

Wahid (50) orangtua korban yang beralamat di desa Paoman RT 3/1 Blok Liberti Indramayu,kepada wartawan, Senin (26/7) mengatakan, dirinya sudah empat tahun tidak bertemu dengan anaknya Eti (25) yang menjadi TKI di Malaysia. Namun saat kembali ke kota asalnya, Eti justru dalam kondisi tidak berdaya setelah mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya.

Menurut Wahyu, selama menjadi TKI di Malaysia, ia putus hubungan dengan anaknya. Menurut keterangan temannya, Eti selalu disiksa oleh majikan. Selain itu, Eti sering diperlakukan kasar seperti penjaja seks komersial.

"Dia harus melayani kebutuhan biologis majikannya yang bekerja sebagai dokter," terang Wahyu.

Eti diberangkatkan oleh PT Akbar Iksan Prima yang beralamat di Jalan Penggilingan Utara Cakung Jakarta Utara, dengan seponsor Hj Jubaedah warga Indramayu.

Setelah satu tahun dikeluarkan oleh majikan pertama, Eti sempat melapor kepada Agen tersebut. Namun setelah di penampungan, menurut Wahyu, anaknya dijual kepada salah seorang dokter warga Malasyia.

Menurut Wahyu, selama satu tahun bekerja pada majikan pertama dirinya tidak pernah menerima upah. Begitupun tiga tahun berturut-turut di majikan yang menjadi dokter tidak dibayar. Jika orangtua hendak menghubungi Eti, dokter tersebut selalu memberikan kabar yang baik, namun tidak boleh berbicara dengan anaknya.

Sementara itu Edi Rustam, Ketua Pengurus Daerah Serikat Pekerja Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri mengungkapkan, setelah mendapatkan laporan dari orangtua korban pihaknya menelusuri keberadaan Eti.

Dengan mencoba menelpon, ia menanyakan keadaan korban namun dokter Daya Shandra majikannya, memaki dan mengancam agar tidak menghubungi lagi. Jika tetap memaksa menghubungi, majikannya mengancam akan membunuh Eti.

Dikatakannya, setelah mendapat ancaman dari dokter Daya Shandra pihaknya segera menghubungi KBRI Malaysia, yang diterima oleh Hendra sebagai pegawai di kantor tersebut.

Hendra sempat meminta alamat serta nomor telpon untuk ditelusuri lebih lanjut. Dua hari kemudian kabar sebenarnya Eti diterima dan hasilnya mengecewakan karena korban sudah tidak berdaya akibat disiksa.

"Siksaan yang diterima Eti sangat biadab, perutnya yang sedang mengandung bayi empat bulan harus digugurkan dengan cara diberi obat namun tidak berhasil, akhirnya perut korban di paksa supaya bayinya keluar oleh dokter," katanya.

Dia menambahkan, Eti berhasil di bawa pulang ke Indonesia dengan kondisi sangat mengkhawatirkan, namun sempat dirawat di rumah sakit Medan kurang dari dua hari, terpaksa dibawa ke Indramayu karena permintaan kedua orangtuanya.

Salah seorang Pengurus TKI Indramayu menuturkan, selama perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu, Eti kekurangan biaya untuk menebus kebutuhan obat terpaksa orangtuanya harus mendadak mencari pinjaman.

Selama ini bantuan dari Pemerintah Kabupaten Indramayu belum mendapatkan apapun. "Ia mencoba untuk meminta bantuan kepada Pemda setempat namun terlalu banyak langkah yang harus ditempuh sedangkan kebutuhan biaya perawatan sangat mendesak. Keluarganya berharap ada dermawan yang memberi bantuan untuk biaya pengobatan,"katanya.**(Ant/Toha)

 
Berita Populer

  photography: affandi, herry hidayat, joko purwanto, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com