RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

Umi, Sukses Buka Sewa Terop dan Peralatan Pesta

Cetak
Selasa, 28 Desember 2010 07:22



Umi, Sukses Buka Sewa Terop dan Peralatan Pesta

Semarang, BNP2TKI (27/12) -- Bisnis sewa terop, meja dan kursi lipat, berikut peralatan pesta pernikahan, sudah lama didambakan Umi Kholifah (36 tahun).Namun, impiannya baru bisa diwujudkan pada tahun 2002, setelah sebelumnya menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) selama tiga tahun di Arab Saudi. Soalnya, modal yang menjadi kendalanya, sehingga ia harus bersabar menunda usahanya.

"Sudah cukup lama saya pengin bisa melakukan usaha sewa terop, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan ini. Hanya saja, tertunda karena faktor modal yang kendalanya," kata Umi Kholifah, di Semarang, Senin (27/12).

Setelah lulus SMA, sebetulnya Umi Kholifah sudah ingin langsung menekuni usaha ini, namun karena terbentur modal akhirnya ia baru bisa diwujudkan pada 2002 setelah pulang menjadi TKI di Arab Saudi.

Alumnus SMA Muhammadiyah Pabelan, Kabupaten Semarang (1992) ini menambahkan, kalau peluang bisnis sewa terop, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan di kampungnya Dusun Belon RT 02/RW 02 Desa Bejaten, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, cukup menjanjikan. Sebab itu, ia sangat mendambakan betul bisa segera menekuni usaha tersebut.

"Saya melihat, bisnis sewa terop, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan pada pertengahan 1990-an cukup menjanjikan. Karena di kampung saya belum ada yang menjalani. Setiap kali ada hajatan pernikahan atau khitanan, orang di kampung saya mencari pinjaman ke desa lain," ungkap Umi.

Akan tetapi, kata Umi menambahkan, apa daya pada pertengahan tahun 1990-an itu, ia tidak memiliki modal buat menjalankan impian usahanya. Sementara untuk pinjam modal kredit di bank, ibu dua anak ini mengaku, takut bukan main. "Yang saya takutkan pinjam modal kredit di bank adalah, pengembalian kreditnya pasti. Sedangkan penghasilannya dari usaha yang hendak dijalani belum diketahui pasti. Jadi, saya takut sekali pinjam modal kredit bank itu," kata Umi dengan lugunya.

Modal TKI

Menurut Umi, setelah dipikir jauh ke depan terutama saat itu dirinya belum berumah tangga, maka pilihan menjadi TKI untuk mengumpulkan modal buat usaha cukup logis. Tepat pada awal 1993, ia nekat bertaruh nasib menjadi TKI bidang penata laksana rumah tangga (PLRT) di Arab Saudi. Tepatnya, di daerah Dakhran.

"Saya menjadi TKI hanya tiga tahun. Sekali kontrak saja, setelah itu saya wirausaha sendiri di rumah," kata Umi Kholifah yang sekarang tinggal Dusun Belon RT 02/RW 02 Desa Bejaten, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Umi menambahkan, selama menjadi TKI dirinya memanfaatkan betul untuk mencari modal. Ia mengaku, tidak mengurangi sedikit pun gaji yang diterima. Untuk makan sehari-hari ia sudah ikut dengan majikan. Dari tabungan selama tiga tahun menjadi TKI ini, ia jadikan modal usaha sewa terop, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan.

"Awalnya, pada 2002 dengan modal Rp 12 juta, saya hanya bisa membeli 6 terop, 2 panggung, meja dan kursi lipat untuk undang sekitar 100 orang. Saya belum bisa membeli peralatan pesta pernikahan," kata Umi.

Dari usaha sewa terop, panggung, meja dan kursi lipat untuk kebutuhan pesta pernikahan ini, Umi menjelaskan, dalam sebulannya kalau ramai bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 5 juta. Akan tetapi, bila lagi bulan-bulan sepi pesta pernikahan sekitar Rp 2 juta. Dari penghasilan yang didapat seperempatnya (25%) ia sisihkan untuk menabung dan menambah modal usahanya. Sehingga dalam tiga tahun kemudian, Umi sudah bisa melengkapi usahanya dengan persewaan peralatan pesta pernikahan lainnya.

Dari usaha sewa terop, panggung, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan ini, Umi sekarang memiliki 6 karyawan. Namun, katanya, karyawan ini sifatnya tidak gaji tetap bulanan. Gajinya disesuaikan dengan setiapkali ada hajatan. Ia mengaku bahagia dengan usahanya ini, karena bisa mengajak orang lain bisa ikut menikmati hasilnya, sekalipun sifatnya sesuai adanya hajatan pernikahan atau khitanan. "Yang penting, bisa bagi-bagi rezeki dan membuat orang lain ikut menikmatinya," kata Umi.

Ia menambahkan,untuk kebutuhan sehari-harinya sebetulnya sudah lebih dari cukup dari hasil tani yang dikerjakan suaminya, Muhammad Zulyani. Namun, kata Umi, karena kedua anaknya mulai membutuhkan biaya pendidikan, maka ia pun membutuhkan penghasilan lain dari usaha sewa terop, panggung, meja dan kursi lipat, serta peralatan pesta pernikahan ini.***(Imam Bukhori)

 
Berita Populer

  

  photography: affandi, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com