RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

Hadi Rumpoko: Sukses Ternak Ulat Membawanya ke Tanah Suci

Cetak
Senin, 23 Mei 2011 15:42



Berikhtiar selama bertahun-tahun merawat dan menjual ulat Hong Kong, Hadi Rumpoko (54) kini hidup lebih baik. Kesuksesan yang diraihnya merupakan buah dari kerja keras.

Jakarta, BNP2TKI (23/5) ---Berikhtiar selama bertahun-tahun merawat dan menjual ulat Hong Kong, Hadi Rumpoko (54) kini hidup lebih baik. Kesuksesan yang diraihnya merupakan buah dari kerja keras. Sebelum menyandang status haji, ia memiliki aset bernilai ratusan juta rupiah. Sebelumnya Hadi Rumpoko hanyalah pedagang kecil, ia juga pernah bekerja di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Sepulang menjadi TKI di Malaysia, warga Kelurahan Satriyan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini, merintis usaha jual ulat Hongkong. Untuk mencari modal tambahan usahanya, Hadi mendapat sokongan pinjaman modal dari Mandiri Bussiness Banking. Diakuinya berkat bantuan modal tersebut, usaha peternakan ulat Hong Kong yang dia geluti maju pesat. Usaha ini mampu mendatangkan rezeki ratusan juta rupiah setiap bulannya. ”Modal pertama dari uang tabungan TKI, kemudian saya dapat bantuan Mandiri Business Banking,” terang Rumpoko tanpa mau menyebut omzetnya secara terperinci.

Mengilas balik perjuangannya, terbayang jelas di mata Rumpoko, setiap pagi dia dan sang istri Hj Nurul Hayati (49) harus membungkusi ikan asin, terasi, garam, dan gula. Selanjutnya, semua bahan untuk memasak itu ditempatkan di dua keranjang bambu yang sebelumnya sudah terpasang di sepeda miliknya.

Semangat pantang menyerah dan berani mencoba mendorong Rumpoko melirik usaha lain dengan harapan bisa meraih keuntungan yang lebih besar. Masih bekerja sebagai pedagang obrok, Rumpoko mengalihkan sebagian modalnya untuk memproduksi minuman limun.

Dia lalu membeli satu mobil pick up untuk angkutan distribusi produk limunnya. ”Ini berlangsung pada 1984-1986,” terang Rumpoko. Distribusi limun itu menjangkau sebagian daerah Kabupaten Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Blitar, dan Kediri.

Dari rutinitasnya mengantarkan sendiri limun ke sejumlah konsumen, Rumpoko mengenal ulat Hong Kong dari salah seorang warga di Kabupaten Malang. Rumpoko tertarik dengan usaha yang menurut penglihatannya sederhana sekaligus menjanjikan keuntungan lebih dibandingkan menjual limun. Tahun 1997, bersama sang kakak bernama Puji Purwanto, Rumpoko mencoba membeli bibit ulat di Pasuruan. Kurangnya modal membuat Rumpoko terpaksa menjual perhiasan emas milik istrinya.

”Saat itu saya beli 70 kg bibit ulat dengan harga Rp 40.000/kg. Saya jual kalung istri saya dengan harga Rp 700.000,” terangnya.

Minim kemampuan dan lemah dalam pengelolalan, ditambah harga bibit ulat hong kong sedang merosot, membuat usaha yang baru dirintis selama enam bulan itu berantakan. Selain harga bibit jatuh menjadi Rp 1.500/kg, banyak bibit yang mati saat proses pemeliharaan. Sebab semuanya dikerjakan oleh Rumpoko secara otodidak. Kegagalan tak membuat Rumpoko patah arang. Setelah sempat terhenti, dia kembali mencoba usaha peternakan ulat Hong Kong. Sebanyak 20 kg bibit dia beli senilai Rp 800.000. Sedikit demi sedikit keuntungan berhasil diraih Rumpoko. Keuntungan yang diperoleh hampir seluruhnya digunakan untuk mengembangkan ulat.

Dengan optimistis dia menggeser produksi limun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Setiap bulan Rumpoko secara rutin melayani pesanan ulat Hong Kong sebanyak 11 ton. Permintaan datang dari Jawa Barat, Kudus (Jateng), Pasuruan (Jatim), Surabaya, dan Jakarta.

”Informasinya ulat ini diekspor ke Amerika dan Jepang untuk makanan ular dan kura-kura. Kalau di sini biasanya untuk makan burung ocehan,” jelasnya.

Dia membeli ulat dari petani seharga Rp 28.000/kg dan dijual Rp 30.000/kg. Rata-rata transaksi yang dia lakukan setiap minggu berkisar Rp 25 juta - Rp 30 juta. Untuk biaya perawatan sekaligus pakan ulat Hong Kong sebelum dikirim ke penjual, Rumpoko menghabiskan biaya Rp 5 juta per minggu.

Tanah Suci

Pada 2007, dari hasil usaha yang terus berkembang, Rumpoko bersama istrinya, Nurul Hayati, bisa bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Dia juga membeli tanah yang di atasnya kini dibangun tempat tinggalnya. ”Saya juga membeli mobil dan mampu menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi di Surabaya,” ungkapnya.

Seiring meningkatnya usaha, musibah datang menghampiri. Hubungan arus pendek listrik di tempat pemeliharaan ulat menghanguskan hampir seluruh bangunan. Untung, api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke rumah induk yang berjarak hanya beberapa meter. ”Itu terjadi pada 2009,” katanya.

Kendati demikian, tak terbersit di pikirannya untuk membuka usaha lain yang bisa menghasilkan keuntungan lebih besar. ”Kalau ditanya cita-cita, saat ini saya ingin membuka usaha dealer motor. Kalau memang ada cukup dana, ,” tandasnya*** HAPIPI.

 
Berita Populer

  

  photography: affandi, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com