RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

Jumhur Ajak Kemendiknas Dirikan Pendidikan Jarak Jauh Bagi Anak TKI

Cetak
Rabu, 08 Juni 2011 17:05



Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat, ketika menerima wartawan Republika, Rabu (8/7), menjelaskan gagasan mengajak Kemendiknas mendirikan Study Center bagi anak TKI di Kinabalu ini dilakukan lantaran masih terbatasnya fasilitas pendidikan bagi mereka. Sementara ini baru 10.000-an anak TKI yang bisa mendapatkan pendidikan di Kinabalu, sementara 41.000 lainnya masih belum mendapatkan akses sekolah gratis.

Jakarta, BNP2TKI (8/6) Sekitar 51.000 anak-anak Tenaga Kerja Indonesia yang ikut bekerja bersama orangtuanya di kota Kinabalu, Malaysia hingga kini terlantar pendidikannya. Mereka kini tidak terjangkau untuk mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah di Malaysia dikarenakan secara hukum anak-anak TKI memang tidak diperbolehkan sekolah. Karena itu, untuk memberikan pendi­dikan bagi anak TKI di Kinibalu, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bersama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mendirikan Sekolah Jarak Jauh berbasis teknologi internet melalui pengadaan perangkat televisi.

Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat, ketika menerima wartawan Republika, Rabu (8/7), menjelaskan gagasan mengajak Kemendiknas mendirikan Study Center bagi anak TKI di Kinabalu ini dilakukan lantaran masih terbatasnya fasilitas pendidikan bagi mereka. Sementara ini baru 10.000-an anak TKI yang bisa mendapatkan pendidikan di Kinabalu, sementara 41.000 lainnya masih belum mendapatkan akses sekolah gratis.

“Saya sudah berdialog langsung dengan Wakil Mendiknas, Fasri Jalal. dan beliau mendukung gagasan sekolah jarak jauh,” terang mantan aktivis ITB ini.

Diakuinya, program sekolah jarak jauh ini memang masih sangat baru karena itu pihaknya akan memprioritaskan gagasan itu bisa terwujud demi masa depan pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri. Sekolah jarak jauh selain lebih mudah juga dari segi pembiayaan tidak terlalu mahal.

“Saya yakin Kemendiknas memiliki dana untuk pendirian Studi Center anak-anak TKI,” tandasnya.

Jumhur mengakui cukup banyak anak-anak TKI yang tidak diterima untuk mengikuti pen­di­dikan di Malaysia. Makanya, menjadi tugas pemerintah mem­berikan layanan pendidikan ke­pada sia­papun warga Indonesia dan di manapun berada. “Anak-anak TKI yang ber­ada di luar negeri tetap berhak mendapatkan dan menik­mati pendidikan,” tegas Jumhur.

Ia menambahkan, gagasan sekolah jarak jauh ini juga sudah dibicarakan dengan Kak Seto. Melalui study center ini materi bisa berupa pelajaran membaca, berhitung hingga lagu Indonesia Raya.Intinya, persis seperti televisi pendidikan.

Jumhur mengharapkan, sekitar 100-500 televisi bisa disediadakan dikantong-kantong di mana banyak anak TKI di seluruh Malaysia.

“Saya sedih, banyak anak-anak TKI yang tidak hafal lagu Indonesia Raya,” gugah Jumhur.

Terkait pendidikan anak-anak TKI di Sabah, tercatat ada seba­nyak 51 ribu anak usia sekolah. 10 ribu di antaranya telah meng­ikuti pendidikan baik formal mau­pun nonformal. Kemendiknas sejak tahun 2009 sudah mengirimkan guru sebanyak 39 orang. Total guru yang telah dikirim sampai saat ini sebanyak 108 orang. Para guru tersebut diper­ban­tukan ke Lembaga Swadaya Mas­yarakat (LSM) Humana, LSM lokal yang telah terakreditasi oleh Pemerintah Negeri Sabah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak warga negara Indonesia.

Data BNP2TKI mencatat terdapat sekitar 2,5 juta TKI di seluruh Malaysia. Dari jumlah itu, 1 juta TKI masuk secara non procedural alias illegal. (Zulfikri)

 
Berita Populer

  

  photography: affandi, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com