 | | "Pembentukan Asosiasi bertujuan untuk meningkatan kualitas dan penguasaan bahasa Korea dan standarisasi pengajaran bahasa Korea," ujar Ketua Umum ALPK2 Chandra Rahmansyah ketika membuka Program Pendidikan Tingkat Lanjutan Pendidikan dan Keterampilan Bahasa Korea I di Cibubur, Jakarta, Jumat (2/3). | Jakarta, BNP2TKI, Sabtu (3/3) - Masih adanya permasalahan TKI di Korea terkait dengan kemampuan bahasa telah mendorong pembentukan para pengelola Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) Bahasa Korea di Jawa dan Sumatra untuk mendirikan Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Keterampilan Bahasa Korea (ALPK2)."Pembentukan Asosiasi bertujuan untuk meningkatan kualitas dan penguasaan bahasa Korea dan standarisasi pengajaran bahasa Korea," ujar Ketua Umum ALPK2 Chandra Rahmansyah ketika membuka Program Pendidikan Tingkat Lanjutan Pendidikan dan Keterampilan Bahasa Korea I di Cibubur, Jakarta, Jumat (2/3). Mengutip data BNP2TKI, Chandra menuturkan tiap bulan terdapat 1.000-2.000 TKI di Korea bermasalah dengan kesiapan bahasa. Dia mengkhawatirkan jika masalah ini tidak segera dibenahi lambat laun penempatan TKI bisa diambil oleh negara lain. Program peningkatan pendidikan Bahasa Korea diikuti oleh 94 peserta berasal dari 32 LPK dengan 6 pesertanya adalah wanita. "Peserta berasal dari TKI yang telah lulusEmployment Permit System (EPS) TOPIK tahun 2011," katanya seraya menegaskan LPK Bahasa Korea yang mengirimkan siswanya untuk yang turut program ini mencerminkan kepedulian dan kesadaran akan pentingnya pendidikan lanjutan ini. Program Pendidikan Tingkat Lanjutan Pendidikan dan Ketrampilan Bahasa Korea I ini memakan waktu 126 jam pelajaran dengan fokus pendidikan pada percakapan. Selain itu juga ada materi tentang bela negara, etos kerja, attitude, disiplin dan agama. "Termasuk pendidikan enterpreneurship dan pengajar berasal dari mantan TKI Korea yang sudah sukses," kata Chandra, Dirut PT Windu Sarana Development. Chandra menambahkan program pendidikan tingkat lanjutan ini melibatkan praktisi pendidikan dan konsultan ahli lainnya, diantaranya pakar pisikologi Universitas Indonesia, tenaga pengajar ahli bahasa Korea, Div.Kostrad, dan pakar pelatihan diklat PLN Pusat.(Zul/Toh/b) |