RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

Menyamar Jadi TKI Mengantar Marhaeini Jadi Profesor

Cetak
Senin, 23 April 2012 22:43



Prof Dr Tri Marheini Pudji Astuti MHum
Prof Dr Tri Marheini Pudji Astuti MHum

Semarang, BNP2TKI, Senin (23/04) -- Tak semua yang mengadu nasib jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja di luar negeri, dari kalangan kelas bawah. Kalangan yang status ekonominya, sosialnya dan pendidikannya rendah.

Tri Marhaeni Pudji Astuti, misalnya. Ibu satu anak kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 09 Juni 1965 ini sonder rendah diri. Ia rela tiga tahun melakoni jadi TKI di Malaysia (2000 - 2003). Padahal, dari sisi status ekonominya, sudah lebih dari cukup dibanding TKI umumnya.

Marheini -- demikian sapaan akrabnya -- sehari-hari jadi dosen di Universitas Negeri Semarang (Unes -- dulu IKIP Semarang). "Selama tiga tahun sekitar tahun 2000 - 2003 saya wira-wiri Indonesia - Malaysia. Pekerjaan sebagai cleaning service pun, dilakoni, Selama di Malaysia saya berada di belakang apartemen sempit, ventilasi kurang. Juga pernah tinggal beberapa bulan dan berbaur dengan TKI asal Jawa Tengah yang didapat dari daftar TKI di Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah," aku Marheini yang pada Hari Kartini kemarin (Sabtu, 21/04) jadi dosen favorit pilihan mahasiswa Sosiologi dan Antropologi! Fakultas Ilmu Sosial, Unes.

Menurut Marheini, banyak pengalaman dan berbagai hal kehidupan TKI yang didapat selama menyamar menjadi TKI di Malaysia. Permasalahan klasik yang didapat TKI di sana hingga berdampak pada kekerasan serta pelecehan seksual adalah, katanya, kendala bahasa, kebiasaan, dan kulur.

Memang, sepintas-kilas antara Indonesia - Malaysia memiliki kesamaan. Tetapi juga banyak perbedaan dalam hal kebiasaan, bahasa, dan kultur.

Mengenai kebiasaan, kata Marheini, pekerja pembantu rumah tangga atau Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) yang bekerja momong (mengasuh anak balita), misalnya, kalau di Indonesia sesekali dapat dilakukan sambil ngobrol dan nonggo (main-main ke tetangga). Tetapi di Malaysia, hal ini tidak bisa dilakukan. Kerja ya kerja. Tidak boleh bekerja sambil ngobrol ke tetangga.

Dalam hal bahasa. Meski Indonesia-Malaysia satu rumpun, tetapi bahasa Indonesia banyak yang berbeda dengan Malaysia. Contoh simpel, Apotek di Malaysia disebut Kedai Obat. Rumah Bersalin di Malaysia disebut sebagai Rumah Korban Lelaki. Toko Kelontong di Malaysia disebut Runcit. "Dan masih banyak contoh perbedaan lain yang tidak dipahami kalangan TKI. Sehingga tidak jarang yang menyebabkan kesalahan kerja dan berdampak pada kekerasan yang dialami TKI," kata Marheini.

Hal lain yang terlihat sepele tetapi penting, kata Marheni, yang sering dilewatkan para TKI adalah, menghafal nomor Perwakilan Republik Indonesia. Untuk mudah mengingat dan menghafal nomor telepon Perwakilan Indonesia ini dilakukan dengan mencatat di ujung balik baju atau kerudung bagi yang berkerudung. "Menghafal nomor Perwakilan Indonesia ini pening bagi para TKI , karena kalau dia sewaktu-waktu ada masalah bisa dengan mudah mengadukan masalahnya," kata Marheini memberi pesan pada para TKI.

Marheini juga mengingatkan kepada Pemerintah dan para pengelola jasa Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS), agar memperhatikan persoalan-persoalan klasik dan sepele tersebut agar disosialisasikan pada calon TKI/TKI sebelum mereka berangkat bekerja di luar negeri. Jadi, katanya, tidak hanya skill dan ketrampilan kerja saja yang ditekankan pada calon TKI/TKI.

Nyaris Dijual

Selama menyamar sebagai TKI di Malaysia, Marheini mengaku pernah ditawari pekerjaan dengan gaji tinggi. Perharinya 2.000 ringgit. "Saya tertarik dengan tawaran kerja itu, saya kemudian melamarnya dan diterima," aku Marheini.

Setelah diteima, ia pun berupaya untuk mendatangi tempat kerja itu. "Disitulah saya mau dijual untuk dijadikan (maaf) pekerja seks. Saya langsung spontan menolaknya. Tetapi pihak pemberi kerja berusaha memaksa. Dari situlah saya kemudian mengaku kalau masih sedang studi, sehingga mereka tidak memaksa lagi," papar Marheni.

Dari pengalaman menyamar sebagai TKI tiga tahun itulah, Marheini kini menyandang Profesor dan menjadi Dosen Luar Biasa di Unes. Kini gelar pendidikan yang disandangnya adalah, Prof Dr Tri Marheini Pudji Astuti MHum. Dan apa yang dilakoni Marheini ini, tentu menarik untuk diikuti para TKI lainnya.***(Imam Bukhori/foto: ist)

 
Berita Populer

  

  photography: affandi, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com