 | | "Sosialisasi Bimbingan Teknis Petugas Rekrut Calon TKI" di Bogor, Kamis (5/7). | Bogor, BNP2TKI, Kamis (5/7) - Deputi Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch membuka "Sosialisasi Bimbingan Teknis Petugas Rekrut Calon TKI" di Bogor, Kamis (5/7).Sosialisasi itu diselenggarakan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Bandung bekerja sama dengan Panitia Nasional Bimtek Petugas Rekrut Calon TKI. Acara diikuti oleh ratusan peserta baik dari pimpinan PPTKIS maupun petugas rekrut calon TKI se-Jabar. Direktur Pelayanan Penyiapan Pemberangkatan Arifin Purba, Kepala BP3TKI Bandung Hasan Abdullah, Ketua Panitia Bimtek Petugas Rekrut Calon TKI Ismail Sumarjo, dan perwakilan dari KBRI Singapura Sukmono turut hadir pada pembukaan sosialisasi itu. Menurut Ade, saat ini pemerintah berada era dimana pejabat publik merupakan jabatan egaliter. "Kita duduk sama meski peran berbeda," ujar Ade. Karena itu, katanya, apa yang dilakukan pemerintah harus dilakukan dengan komunikasi terlebih dahulu termasuk kegiatan Sosialisasi Bimtek PRCTKI ini dilakukan dengan mengkomunikasikan kepada pimpinan PPTKIS. Ade menegaskan proses pembenahan harus terus dilakukan pemerintah dan tidak boleh ada pembiaran. Sebagai pejabat publik, pemerintah harus melakukan perbaikan guna pemartabatan penempatan dan perlindungan TKI. Apapun kebijakan yang ditempuh akan menimbulkan resistensi namun apapun konsekuensinya kebijakan itu harus diambil guna menyelamatkan citra pemerintah, citra PPTKIS dan citra semua pemangku kepentingan terkait. Ia mengatakan semua tahapan TKI bermasalah mulai dari rekrut hingga penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). BNP2TKI, lanjut Ade, sangat serius untuk melakukan pembenahan dan mengurai segala permasalahan di tiap sekuens. Karena itu, dari Kota Bogor ini kita berkomitmen pembenahan dimulai di tahap awal perekrutan. Ade mengungkapkan, sebelumnya BNP2TKI telah melakukan pembenahan dalam pelatihan melalui pengawasan kamera pemantau (CCTV), pembenahan pemeriksaan kesehatan melaui penerbitan "security paper", dan upaya pemeriksaan psikologis TKI untuk memastikan kesiapan mental-psikisnya. "Kami mendorong upaya perubahan besar ke depan," katanya. Ade menegaskan, pihaknya akan jalan terus dan bagi teman-teman yang tidak ikut akan ditinggalkan. "Semua upaya pembenahan dibangun melalui sistem informasi. Obsesi kami pelayanan ke depan berbasis pada teknologi informasi," katanya. Ade menilai, jika semua tahapan pelayanan dokumentasi TKI bisa dilakukan dengan baik maka akan bisa mereduksi permasalahan secara minimal dan hal itu diharapkan berdampak pada sebuah penghargaan publik terhadap bidang ketenagakerjaan. "Jangan lagi kita menginvestasi permasalahan dan menuai badai persoalan," kata Ade (zul/toh/b) |