RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

TKI Tuti Tursilawati Berpeluang Mendapatkan Pemaafan

Cetak
Senin, 06 Agustus 2012 17:26



Persidangan Tuti Tursilawati berjalan majelis hakim Pengadilan Thaif Arab Saudi Tuti Tursilawati TKI Majalengka dinyatakan bersalah bukan kategori Had Khiraban pembunuhan kejam tidak dapat dimaafkan kesalahannya masih dapat tanazul pemaafan
Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kasus WNI/TKI di Luar Negeri Yang Terancam Hukuman Mati Humphrey R Djemat

Jakarta, BNP2TKI, Senin (6/8) - Setelah persidangan Tuti Tursilawati berjalan beberapa kali, majelis hakim di Pengadilan Kota Thaif, Arab Saudi, memutuskan Tuti Tursilawati, TKI asal Majalengka, Jawa Barat, tetap dinyatakan bersalah tetapi bukan dalam kategori Had Khiraban (pembunuhan kejam tidak dapat dimaafkan) sehingga kesalahannya masih dapat diberikan tanazul (pemaafan).

”Atas dasar putusan majelis hakim itu, terbuka peluang untuk TKI Tuti mendapatkan tanazul dari pihak keluarga korban. Pada saat ini sedang dilakukan upaya pendekatan kepada keluarga korban. Tampaknya sikap keluarga korban tidak sekeras seperti sebelumnya,” kata Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kasus WNI/TKI di Luar Negeri Yang Terancam Hukuman Mati Humphrey R. Djemat, dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (6/8).

Humphrey mengatakan proses hukum TKI Tuti Tursilawati telah mendapatkan pendampingan hukum dari pengacara tetap Indonesia di Arab Saudi yakni Kantor Khuddran Zahrani yang telah bekerja sama dengan Perwakilan Indonesia dan secara profesional oleh pengacara.

Humphrey menjelaskan Tuti Tursilawati telah menjalani sidang ulang beberapa kali di Pengadilan Kota Thaif. Di dalam sidang ulang yang dilaksanakan pada 8 Juli lalu, majelis hakim memutuskan tetap bersalah tetapi bukan dalam kategori had khiraban sehingga kesalahannya masih dapat diberikan pemaafan.

Sebelumnya, dalam sidang ulang di pengadilan tingkat pertama di Kota Thaif, pada Kamis (3/5) lalu, Tuti Tursilawati menyangkal bahwa barang bukti berupa kayu yang dipergunakan untuk membunuh sudah dipersiapkan. Di depan majelis hakim, Tuti mengatakan kalau kayu itu sudah lama ada di dapur rumah majikannya, Suud Mulhaq Al-Qtaibi. Tuti juga menjawab ia berbuat itu karena ingin dilecehkan secara seksual oleh korban.

Tuti juga menyangkal telah memakai baju laki-laki Arab Saudi sewaktu membunuh majikannya. Ia menjelaskan, baju itu diselayangkan di pundaknya karena mau dicuci. Selain itu, Tuti juga menyangkal memakai kaus tangan untuk menghilangkan jejak. Ia memakai kaus tangan karena kebiasaannya pada musim dingin.

Sidang ulang terhadap Tuti Tursilawati yang telah dinyatakan bersalah dan dihukum qishas (pancung) tersebut adalah suatu hal yang langka, dan jarang terjadi. Menurut Humphrey, hal tersebut terjadi karena adanya upaya keras dari Pemerintah Indonesia, termasuk Satgas TKI, Perwakilan RI di Arab Saudi, termasuk Surat Khusus Presiden SBY tertanggal 6 Oktober 2011.

Dalam isi surat tersebut Presiden SBY meminta bantuan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud, untuk menunda eksekusi terhadap TKI Tuti Tursilawati, berikut meminta Raja Arab Saudi membantu mendapatkan permohonan maaf (tanazul) bagi Tuti. “Sejak adanya suratnya tersebut, eksekusi terhadap TKI Tuti ditunda walaupun pihak keluarga korban sering mendesak segera dilakukan eksekusi,” kata Humphrey.

Menurut Humphrey, berdasarkan keterangan TKI Tuti tersebut, majelis hakim meminta kepada wakil keluarga korban (anaknya laki-laki tertua, Munif Suud Al Qtaibi) agar memberikan pemaafan terhadap Tuti. “Hakim memberikan nasihat, bahwa di mata Allah memberikan pemaafan mendapatkan pahala yang besar dibandingkan menghukum seseorang. Dan meminta untuk keluarga besar korban (Keluarga Al Qtaibi) bermusyawarah kembali memutuskan nasib TKI Tuti,” kata Humphrey.(mam/b)

 
Berita Populer

  photography: affandi, herry hidayat, joko purwanto, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com