RSS Berita BNP2TKI
Berlangganan berita BNP2TKI via FeedBurner...

Yuliani Basori, TKI Berprestasi di Singapura

Cetak
Jumat, 14 September 2012 19:00



Yuliani Basori jadi orang Indonesia pertama terpilih Tukang Masak Terbaik di Singapura, menerbitkan buku dan mendirikan sekolah kursus memasak
Yuliani Basori jadi orang Indonesia pertama terpilih Tukang Masak Terbaik di Singapura, kini juga menerbitkan buku dan mendirikan sekolah kursus memasak.

Jakarta, BNP2TKI, Jumat (14/9) - Pertama bekerja di Singapura, paa 1998 Yuliani Basori tak bisa memasak sama sekali. November lalu, ia jadi orang Indonesia pertama yang terpilih sebagai Tukang Masak Terbaik di Singapura. Ia juga menerbitkan buku dan mendirikan sekolah kursus memasak di sana.

Yuliani Basori, 32, TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) asal Indonesia, beres-beres merapikan rumah majikannya. Di ruang lain, Bernard Chua, sang majikan beserta istrinya, Judy Han sibuk mengepak puluhan buku ke dalam sebuah kotak kardus. Christopher Chua, putra mereka ikut membantu. Ia melipat dan memasukkan sebuah spanduk berisi promosi buku ke dalam kotak kardus itu.

Yulie boleh dikata bernasib amat baik, dan ia bukan PLRT biasa. Ia, barangkali, satu-satunya PLRT rumah tangga asal Indonesia yang pernah menulis buku dan diterbitkan di Singapura. Karena itu, pada 9 November 2011 lalu, perempuan asal Blitar, Jawa Timur ini meraih predikat Best Cook (Tukang Masak Terbaik) dalam sebuah ajang yang diselenggarakan asosiasi agen tenaga kerja, Nation Employment Singapore.

Setelah itu, wajah dan cerita tentang kepiawaian Yulie dalam mengolah dan membuat masakan bertebaran di media Singapura. Ia pernah muncul di televisi Channel News Asia dan ditulis oleh The Straits Times (TST), surat kabar terbesar dan paling berpengaruh di Negeri Singa.

Kisah Yulie adalah pelipur lara di tengah cerita-cerita muram tentang nasib pembantu asal Indonesia di Singapura. Buku karya Yulie memuat 60 resep masakan, dibanderol 5 dolar Singapura, yang dengan kurs Rp7 ribu per dolar Singapura, setara dengan Rp35 ribu. “Nggak cuma resep Indonesia. Ada masakan Cina dan Melayu juga,” kata Yulie seperti dikisahkan Batam Pos.

Dengan dukungan penuh keluarga majikan, ia kini mendirikan sekolah memasak yang diberi nama: Yulie Cooking School. Tempatnya di rumah majikannya di 69 # 11-10 Jurong West Central, Singapura. Judy Han, majikan perempuannya, duduk sebagai manajer sekolah. Sekolah memasak ini menawarkan tiga paket pendidikan, yaitu basic 1, basic 2, dan advance.“Semua materi bersumber pada buku saya ditambah praktik memasak,” papar Yulie.

Ruang tunggu keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, tanggal 8 September 1998. Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun duduk gelisah di sana. Lalu lalang ratusan orang dan minimnya pengetahuan tentang prosedur naik pesawat terbang, membuatnya bingung berbalut takut. “Itu pertama kali saya berangkat ke luar negeri. Nggak ngerti apa-apa. Saya agak takut-takut,” kata Yulie, mengisahkan awal keberangkatannya ke Singapura.

Yulie memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri karena tak bisa melanjutkan pendidikannya ke SMA. Keluarganya di Desa Jeblog, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur tak sanggup membayar uang masuk sekolah. Keputusan jadi TKI diambil setelah melihat tetangganya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri pulang membawa uang banyak. Yulie pun jadi bersemangat untuk bekerja di luar negeri. “Saya ingin membantu keluarga saya dan adik-adik saya,’’ ucap Yulie

Dengan modal Rp200 ribu, ia mencari agen tenaga kerja yang bisa menyalurkannya bekerja di Singapura. Sebuah agen di Tulungagung mengirim Yulie ke agen lain di Jakarta. Februari 1998, Yulie tiba Jakarta. Karena politik Indonesia sedang bergejolak, nasib Yulie sempat tak menentu.

“Saya harus menunggu tujuh bulan karena situasi Indonesia saat itu lagi kacau. Presiden Soeharto baru saja diturunkan,” ujarnya dengan raut wajah serius. Ia menunggu sambil mengikuti pelatihan.

Setibanya di Singapura, ia langsung ditempatkan di rumah keluarga muda Bernard Chua dan Judy Han dengan dua anak yang masih kecil. Dalam keluarga ini ada juga orang tua Judy. “Enam bulan pertama bekerja di sini gaji saya dipotong agen,” tutur Yulie. Saat itu gajinya 320 dolar Singapura.

Keberuntungan memayungi Yulie. Keluarga Bernard menerima ia apa adanya. “Ketika pertama kali datang, dia sama sekali tidak bisa memasak untuk keluarga kami,’’ kata Judy Han, 48. Yulie adalah pembantu pertama di keluarga itu. Yulie juga tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Mandarin, bahasa sehari-hari keluarga Bernard-Judy. “Kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh,” tutur Judy.

Selain membersihkan rumah dan mencuci, tugas Yulie adalah menemani Christopher Chua yang saat itu baru berumur 1,5 tahun dan baru masuk TK. Kala mengantar Christopher ke sekolah, Yulie juga masuk ke dalam ruang kelas. Dia duduk sambil menyimak guru yang mengajar. Di situlah Yulie belajar bahasa Inggris. Kata-kata yang ia dengar diingat-ingat dan diulangi. Sepulangnya ke rumah majikan, ia cari artinya di kamus. Setelah menemani Christopher, Yulie ke dapur belajar memasak. “Saya diajarkan nenek (ibunda Judy) memasak. Saya diajarkan masakan Singapura. Awalnya saya diajar masak hainan chicken rice,’’ ujar Yulie yang biasa memanggil ibunda Judy, Popo.

Begitulah, dengan gigih, setiap hari Yulie belajar bahasa Inggris dan belajar memasak. Ia diajarkan masakan yang berbeda tiap hari selama satu tahun. Saat belajar bersama Popo itu ia juga belajar bahasa Mandarin. Setahun bersama keluarga Bernard-Judy, Yulie sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Mandarin. Ia pun sudah bisa memasak sendiri tanpa bantuan Popo “Resep masakan yang diajarkan itu saya tulis di buku. Masakannya difoto dan saya simpan. Jadi kalau butuh dan mau belajar lagi saya bisa baca,’’ kata Yulie.

Setelah Yulie menguasai puluhan resep masakan, Popo tak pernah lagi menemaninya memasak. Bahkan masakan Yulie dipuji dan disebut lebih enak. Ia telah “mengalahkan” gurunya. Memasak untuk keluarga Bernard-Judy dipercayakan sepenuhnya kepada Yulie. Ketika Yulie pulang kampung, ia diminta tidak berlama-lama. “Kalau saya pulang kampung, nenek yang masak. Kalau saya sudah kembali, saya diberitahu masakan nenek katanya tidak enak,’’ kata Yuli sambil tertawa.

Bertahun-tahun bersama keluarga Bernard-Judy. Yulie semakin pintar memasak hingga menguasai ratusan resep masakan. Termasuk masakan-masakan yang rumit. Ia paling piawai memasak menu favorit keluarga itu, hainan chicken rice dan po phia. Saat Tahun Baru Cina lalu, Judy dibuat senang dan terkejut karena Yulie menyediakan berbagai macam masakan untuk 25 anggota keluarga besarnya. “Dia sangat pintar masak sekarang. Dia sudah master. Kami tidak perlu lagi memberitahu harus masak apa,’’ ucap Judy dengan wajah berseri-seri.

Bernard Chua, manajer pada sebuah perusahaan komputer, berpikir bakat besar Yulie dalam memasak bisa dijual. Ia lantas menyarankan Yulie untuk menulis dan membukukan resep-resep masakan yang sudah dikuasainya. Judy Han, yang juga manajer di perusahaan komputer, mendukung ide suaminya itu. Anak-anak mereka dan orang tuanya pun satu suara: keahlian Yulie harus dipromosikan.

“Mereka mendorong saya untuk membuat buku supaya tidak lupa resep dan bisa membantu teman lainnya yang belum tahu memasak,’’ katanya. Yulie sendiri berkeinginan membuka restoran di Indonesia, bersama suaminya yang kini tinggal di Jakarta, jika sudah tak bekerja lagi di Singapura.

Rencana membukukan resep itu dimulai Februari 2011. Yulie bersama Judy mengumpulkan resep-resep yang pernah ditulis tangan, lalu Yulie sendiri mengetik ulang pada komputer. Ia sudah bisa mengetik, karena sejak Juli 2010, Yulie oleh majikannya dikursuskan. Naskah tulisan lalu diedit Bernard dan disimpan. Semua anggota keluarga Bernard terlibat dalam pembuatan buku ini. Putra mereka, Christopher yang kini berusia 14 tahun, bertugas memfoto masakan-masakan yang dibuat Yulie.

Cetakan pertama buku Yulie terbit. Buku resep itu langsung dicetak 2.500 eksemplar menghabiskan biaya 3.000 dolar Singapura. Di sampul buku, di bawah judul, terpampang foto-foto masakan dan foto Yulie mengenakan kemeja kotak-kotak merah.Terbitnya buku Yulie Cookbook, mendorong Bernard menominasikan Yulie sebagai pembantu terbaik untuk kategori Best Cook dan Best All-Rounder dalam ajang penghargaan yang diselenggarakan Nation Employment. “Saya tidak tahu tentang penghargaan itu,’’ kata Yulie. (hpp/b)

 
Berita Populer

  photography: affandi, herry hidayat, joko, dwi hartanto - webdesign: ayahyaweb.com