|
Eropa Barat Buka Peluang TKI Trampil
Bandung, BNP2TKI (24/2) - Kawasan Eropa Barat merupakan salah satu daya tarik sebagai tempat tujuan bekerja untuk para tenaga kerja dari berbagai negera termasuk Indonesi, mengingat negara-negara di kawasan itu termasuk negara maju yang bertumpu pada pengetahuan dan teknologi. Sehingga banyak peluang kerja di berbagai sector seperti manufaktur, kontruksi, public health dan jasa.
Direktur Eropa Barat Kementrian Luar Negeri (Kemlu) RI, Dewa Made Juniarta Sastrawan mengatakan, saat ini peluang kerja di Kawasan Eropa Barat cukup banyak. khususnya untuk tenaga kerja terampil Indonesia cukup besar.
“Banyak pekerja lokal yang meninggalkan sector kerjanya seperti manufaktur, kontruksi, public health, pertanian, perikanan, pertambangan dan jasa. Terlebih lagi di negara tersebut di masa mendatang akan menghadapi perubahan komposisi penduduk,” katanya
Selain memiliki peluang, kawasan Eropa Barat seperti Inggris, Belgia, Perancis, Finlandia, Swedia, Spanyol dan Swedia, sambung Dewa Made, juga memiliki tantangan seperti kebijakan dari negara-negara Eropa Barat yang masih mengutamakan WN setempat dan UE/EFTA terlebih dahulu dalam merekrut tenaga kerja asing.
“Karena itu untuk menembus pasar Eropa Barat perlu kualifikasi yang tinggi bagi TKI terampil, peningkatan SDM calon TKI formal seperti penguasaan bahasa asing, dan perlunya sertifikat internasional untuk perawat,” katanya.
Dengan keahlian yang terampil, kata Dewa Made, TKI formal dapat bersaing dengan tenaga kerja asing khususnya Asia yaitu China, Vietnam dan Filipina. “Banyak WNI yang kita tangani umumnya bermasalah kontrak kerja seperti pelaut, petani seperti di Afrika Madagaskar, Mauritis, Mozambik,” katanya.
Selain Eropa Barat, Kawasan Afrika seperti Tanzania pekerjanya didominasi oleh petani Indonesia karena ada tempat pelatihan untuk TKI. Sebelumnya petani Tanzania hanya bisa memperoleh hasil panen 2 ton perhakter, tetapi dengan memakai pekerja petani Indonesia hasil kebunnya bisa mencapai 6 ton perhetar. Sementara di Sinegal, dari 600 pekerja di perhotelan 80 persen pekerja diantaranya berasal dari Indonesia.***hp |