Monday, 22 July 2019

Berita

Berita Utama

BP3TKI Bandung Menyelenggarakan Pelatihan Instruktur PAP bagi Pegawai LTSA

-

00.07 22 July 2019 8

BP3TKI Bandung dalam Bimtek bagi Instruktur PAP di LTSA, Jumat (19/7)

 

Bandung, BNP2TKI (20/07)__Dalam rangka memberikan edukasi kepada Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) di Provinsi Jawa Barat, maka diperlukan terlebih dahulu pemahaman literasi dan ilmu kepada para calon pengajar pekerja migran. Atas dasar tersebut, maka BP3TKI Bandung mengadakan kegiatan berupa Bimtek Asistensi peningkatan kapabilitas instruktur Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) tahun 2019 yang mengundang perwakilan segenap Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) yang telah berdiri di Jawa Barat. Kegiatan yang dibuka pada Jumat, 19 Juli 2019 ini diikuti oleh 25 peserta kegiatan yang terdiri dari pegawai dari Dinas Tenaga Kerja yang selama ini telah memiliki LTSA seperti Indramayu, Cirebon, Subang, Karawang, dan Sukabumi. Selain dari pegawai dinas tenaga kerja, diundang pula perwakilan pegawai BP3TKI yang selama ini turut mengelola LTSA di wilayah tersebut.

 

Kegiatan Bimtek Asistensi PAP dibuka oleh Direktur Penyiapan dan Pembekalan Pemberangkatan BNP2TKI, Ahnas, yang menerangkan pentingnya update informasi yang harus dilakukan oleh instruktur PAP kepada CPMI yang siap berangkat. Apalagi dengan berlakunya Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia yang menggantikan Undang-Undang No. 39 Tahun 2004, maka diharapkan nantinya para peserta Bimtek mampu memberikan informasi terkini tentang berbagai peraturan dan wawasan yang dibutuhkan oleh CPMI di Negara penempatan. Dijelaskan bahwa undang-undang No. 18 tahun 2017 memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap penempatan PMI karena di dalamnya mengamanatkan pentingnya peran LTSA dan instansi pemerintah daerah dalam dunia penempatan tenaga kerja luar negeri. Salah satu dampak dari perubahan ini adalah berubahnya nomenklatur pengajaran kepada CPMI dari yang semula PAP (Pembekalan akhir Pemberangkatan) menjadi OPP (Orientasi Pra Pemberangkatan).

 

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mengupas secara tuntas tentang berbagai materi PAP langsung oleh para pakarnya, yaitu materi Perjanjian Kerja dan Fasilitasi Pembiayaan oleh Kasubdit PAP dan Fasilitasi Pembiayaan, Panji Krisnowo, Materi Perundang-undangan oleh Kepala Seksi Pembekalan Akhir Pemberangkatan, Sanitha Farausi, dan materi lainnya seperti materi Pembiayaan, Materi Bahaya AIDS dan Materi Bahaya Narkoba disampaikan langsung oleh instansi terkait.

 

Selain pembahasan materi PAP yang telah ada, juga ditambahkan satu materi baru yaitu materi Ekstrimisme yang lebih menekankan kepada bahaya pergaulan bebas dan pengaruh dunia maya yang bisa menjerumuskan pekerja migran ke dalam dunia terorisme, vandalisme, dan gerakan liberal lainnya. Materi ini menjadi cukup penting mengingat maraknya pemberitaan terkait organisasi terorisme berkedok agama yang memiliki modus operandi perekrutan melalui pergaulan bebas dan dunia maya. Materi ini disampaikan oleh Infest (Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies) Yogyakarta yang telah bekerja sama dengan BNP2TKI.

 

Guna melengkapi kegiatan Bimtek, dilaksanakan juga metode microteaching peserta Bimtek yang memberikan kesempatan bagi seluruh peserta untuk melakukan presentasi hasil pembelajaran yang telah didapat.

 

Di penghujung acara, para peserta dikejutkan dengan kedatangan Atase Ketenagakerjaan Malaysia, Budhi Hidayat Laksana, yang diundang secara khusus oleh kepala BP3TKI Bandung, Delta, untuk memberikan informasi terbaru terkait kondisi ketenagakerjaan di Malaysia. Diinformasikan oleh Budhi Hidayat, bahwa saat ini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya dan lebih siap dalam membantu berbagai permasalahan yang dialami PMI. Salah satu perubahan tersebut adalah saat ini KBRI Malaysia telah menerapkan layanan 24 jam sehari sehingga bisa lebih leluasa dalam memfasilitasi permasalahan PMI. Selain itu, demi memberikan bantuan terhadap PMI overstay yang tidak berani pulang karena tidak bisa membayar denda, saat ini KBRI Malaysia memiliki program kerja bernama “Back for Good” yang akan membantu proses deportasi para pekerja migran overstay.

 

Adapun kegiatan Bimtek ini nantinya diharapkan mampu memunculkan bibit-bibit unggul instruktur PAP di daerah, sehingga bisa mengikis isu kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dalam melaksanakan kegiatan PAP di LTSA. *** (Humas/BP3TKI Bandung/Charly)