Kepala LP3TKI Surabaya : Pemberdayaan Eks TKI-B/WNIO dan TKI Purna 'Nawacita Presiden Jokowi'

02 November 2015 13:52 WIB

Kepala LP3TKI Surabaya, Tjipto Utomo, sedang memberikan paparan pada eserta "Pelatihan Kewirausahaan Terintegrasi Bagi TKI-B/WNIO, TKI purna dan keluarganya" di STAI Muhammadiyah Jalan Pehlawan III/27 Kedungwaru, Tulungagung, Minggu (01/11) -- (Foto : Dok. LP3TKI Surabaya)

Tulungagung, BNP2TKI, Senin (02/11) - Kepala Loka Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (LP3TKI) Surabaya, Tjipto Utomo, mengatakan bahwa pemberdayaan terhadap eks TKI Bermasalah (TKI-B) juga eks WNI yang melebihi izin tinggal saat di luar negeri atau Overstayers (WNIO), serta TKI purna dan keluarganya adalah merupakan salah satu program nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Program nawacita Presiden Jokowi terkait pemberdayaan terhadap eks TKI itu, oleh Kepala BNP2TKI Bapak Nusron Wahid diimplementasikan di antaranya melalui 'Pelatihan Kewirausahaan Terintegrasi Bagi Eks TKI' utamanya TKIB/WNIO, TKI purna dan keluarganya," kata Tjipto Utomo di Tulungagung, Minggu siang (01/11).

Tepatnya, pernyataan Tjipto Utomo itu disampaikan di depan 25 orang peserta latih yang mengikuti "Pelatihan Kewirausahaan Terintegrasi Bagi Eks TKI-B/WNIO, TKI Purna dan Keluarganya" yang diadakan BNP2TKI melalui LP3TKI Surabaya bersama P4TKI Madiun di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah Jalan Pahlawan III/27 Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.  
  
Diadakannya pelatihan kewirausahaan ini tidak lain adalah menindaklanjuti keinginan Pemerintah melalui program “Indonesia Memanggil" –sebagaimana diagendakan secara bertahap oleh Presiden Jokowi – terkait pemulangan sebanyak 1,8 juta orang TKI-B/WNIO dari berbagai negara di dunia, khususnya dari Malaysia dan Arab Saudi. Pada tahun 2015 ini Pemerintah telah menargetkan pemulangan TKI-B/WNIO sebanyak 50.000 orang.

Maksud dan tujuan dari "Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi" sebagaimana disebutkan didalam Peraturan Kepala BNP2TKI Nomor 17 Tahun 2015 - tentang “Petunjuk Teknis Pemberdayaan TKI Purna/TKI-B/WNIO dan Kelyarganya” - adalah, untuk memberikan motivasi dan membuka wawasan kepada peserta latih, serta memberikan pengetahuan terkait dengan pengembangan ekonomi produktif (meliputi wirausaha, investasi, dan usaha-usaha produktif lainnya) dengan memanfaatkan penghasilan selama diperoleh saat bekerja di luar negeri, potensi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya (sumber daya alam, dan lain-lain). Sehingga TKI purna dan keluarganya nantinya dapat memperoleh penghasilan secara terus-menerus, selain itu dapat meningkatkan ekonomi keluarganya. Pada akhirnya peserta latih dapat meningkatkan kesejahteraan baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat di sekitarnya, bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

“Nah, agar kepulangan TIKI-B/WNIO dari luar negeri ke daerah asalnya ini tidak menjadi beban baru bagi masyarakat maupun Pemerintah di daerahnya, maka BNP2TKI melalui Direktorat Pemberdayaan Kedeputian Bidang Perlindungan menjadikan ‘Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi’ ini sebagai program prioritas,” kata Tjipto.

Ditambahkan Tjipto, yang tidak kalah pentingnya lagi setelah diadakannya pelatihan kewirausahaan ini bagi peserta latih khususnya adalah, adanya program peningkatan berupa pembinaan berkelanjutan dengan harapan, agar para TKI-B/WNIO, TKI purna dan keluarganya dapat mengelola dan memanfaatkan uang dari hasil bekerja di luar negeri untuk kegiatan yang produktif, sehingga mereka tetap memperoleh penghasilan secara terus-menerus dari usahanya di dalam negeri dan (bahkan) dapat menciptakan usaha baru dengan melibatkan orang lain untuk bekerja.

4 PROGRAM Maksimal

Tjipto lalu memaparkan, agar mencapai hasil maksimal terkait pemberdayaan TKI-B/WNIO, TKI purna dan keluarganya melalui “Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi” ini,  maka dititik beratkan pada 4 (empat) bidang program, yaitu (1) ketahanan pangan, (2) industri ekonomi kreatif, (3) industri pariwisata, dan (4) industri jasa.

Untuk mencapai target maksimal itu dari "Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi" itu, lanjut Tjipto, BNP2TKI (juga LP3TKI Surabaya) sadar betul, bahwa program tersebut tidak akan mungkin dapat dijalankan sendiri. “Sebab itulah, BNP2TKI melalui LP3TKI Surabaya dan P4TKI di Jawa Timur mengajak serta instansi lain terkait seperti Disnaker, Disperindag, Dinas Koperasi dan UKM, Lembaga Keuangan dan Perbankan, serta kalangan Ormas dan LSM untuk bahu-membahu didalam memberdayakan TKI dan keluarganya di masing-masing daerahnya," papar Tjipto.

Terkait pemberdayaan eks TKI melalui "Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi" di Provinsi Jawa Timur ini, pada tahun 2015 kebagian 20 paket yang diadakan di 10 kabupaten, yakni Kabupaten Banyuwangi, Jember, Lamongan, Malang, Blitar, Kediri, Tulungagung, Madiun, Magetan, dan Ponorogo. Setiap paket pelatihan, diikuti 25 orang peserta latih yang meliputi TKI-B/WNIO, TKI purna dan keluarganya.
Tjipto menegaskan, program pelatihan kewirausahaan untuk eks TKI ini merupakan tugas mulia. "Tujuan utamanya adalah untuk memberikan peluang bagi TKI purna dan keluarganya agar dapat lebih produktif didalam memanfaatkan uang penghasilan dan kemampuan yang ada, serta diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi diri TKI sendiri dan keluarganya," kata Tjipto. "Selain itu, agar eks TKI bersangkutan tidak terpikir untuk kembali lagi bekerja ke luar negeri," tambahnya.

"Pelatihan Kewirausahaan TKI Purna Terintegrasi" di Kabupaten Tulungagung diadakan di dua lokasi, yakni di STAI Muhammadiyah Jalan Pahlawan III/27 Kecamatan Kedungwaru, dari tanggal 1 - 6 November 2015, kemudian di Kantor Majelis Wakil Cabanh Nahdhatul Ulama (MWC-NU) Kecamatan Ngunut di Jalan Gentengan III Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, dari 2 - 7 November 2015.***(Humas – LP3TKI Surabaya/IB)



Share: