Ubah Pandangan Mengenai TKI

17 Februari 2017 15:54 WIB

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia(BP3TKI) Padang, Drs. Harris Nainggolan, MM berharap adanya perubahan mengenai pandangan masyarakat terhadap TKI di ruang auditorium Poltekes Kemenkes di Kota Solok pada Kamis, 16 Februari 2016
Padang (BNP2TKI) – Mengubah Pandangan mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  merupakan catatan penting yang disampaikan oleh Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia(BP3TKI) Padang, Drs. Harris Nainggolan, di ruang auditorium Poltekes Kemenkes di Kota Solok pada Kamis, 16 Februari 2016. TKI menurut undang-undang adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. 

“Banyak yang berpandangan bahwa TKI adalah Pelaksana Rumah Tangga (PRT) yang bekerja ke luar negeri, itu sangat salah. Hampir semua orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dapat dikatakan sebagai TKI, akan tetapi sangat disayangkan bahwa mereka tidak mengakui diri mereka sebagai TKI. Tak jarang dari mereka malah tidak mengetahui prosedur penempatan yang benar”, ungkap Harris  kepada alumni dan mahasiswa Poltekes Kemenkes di Kota Solok.

Pada dasarnya penempatan untuk bekerja ke luar negeri dapat melalui empat cara, yakni pertama penempatan oleh PPTKIS, penempatan oleh pemerintah, penempatan  antar perusahaan, dan penempatan secara perorangan / TKI mandiri.  Adapun tujuan dari penempatan yang secara prosedur salah satunya untuk menjamin dan melindungi Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sejak di dalam negeri (masa pra penempatan), di negeri tujuan (masa penempatan) dan sampai kembali ketempat asal di Indonesia (purna penempatan).

Lebih lanjut, Harris mengungkapkan kepada peserta sosialisasi bahwa peluang kerja di luar negeri sangat banyak dan itu perlu mengambil kesempatan tersebut untuk belajar dan menambah pengalaman. Salah satu peluang yang selalu tersedia adalah program kerjasama Goverment to Groverment (G to G) ke Jepang yang diadakan setiap tahunnya oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

“Program G to G menyediakan peluang kerja ke Jepang bagi lulusan keperawatan. Mereka nantinya dapat ditempatkan di rumah sakit, failitas kesehatan, di rumah lansia dan sebagainya. Penghasilan perawat di Jepang per Bulannya antara ¥ 100.000 sd ¥ 200.000 plus uang lembur, tunjangan dan bonus”, ungkap Harris.

Merubah pandangan menegnai TKI merupakan hal juga ditekankan oleh Kepala Bidang Pengaduan, Advokasi dan Tenaga Kerja Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagkerjaan Kota Solok, Sisvamedi, SH, MH.

“Kota Solok memiliki peminat yang rendah untuk bekerja ke luar negeri, mengingat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai peluang bekerja ke luar negeri. TKI hanya di anggap buruh, padahal banyak peluang kerja yang lain. Banyak pekerjaan di luar negeri yang berpenghasilan besar, “Ujar Sisvamedi.

Lebih lanjut Kepala Seksi Kelembagaan dan Pemasyarakatn Program BP3TKI Padang, Tomy Kurniawan, SE mengharapkan sosialiasasi mengenai Program Penempatan G to G ke Jepang yang diberikan kepada puluhan peserta  dapat mengubah pandangan mengenai bekerja ke luar negeri. Selain itu ia juga mengingatkan agar lulusan keperawatan di Sumatera Barat dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan bahasa sehingga dapat bersaing bekerja di luar negeri. (Humas/bp3tkipadang/dba)

Share: