Nusron Wahid: Pergunakan Diyat Untuk Kesejahteraan

12 Februari 2018 13:57 WIB

Saat penyerahan Diyat kepada pihak keluarga PMI almarhum Sunenah disaksikan Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid beserta Staf BNP2TKI bersama pengacara Shuaib Al Kandari asal Kuwait, di Ruang Rapat Kepala BNP2TKI, Gedung BNP2TKI, Jakarta, Senin (12/2/2018)

BNP2TKI, Jakarta, Senin (12/2/2018)___Bertempat di Kantor BNP2TKI, keluarga almarhumah Sunenah bt. Supardi, pekerja migran Indonesia yang tewas tertabrak tahun 2011 lalu di Kuwait,  yang terdiri dari Ayah kandung, beserta ketujuh saudara kandungnya, telah menerima uang diyat yang diserahkan oleh pengacara Shuaib Al Kandari dari Kuwait disaksikan oleh Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, bersama pejabat terkait di lingkup BNP2TKI. Pengacara, Shuaib Al Kandari asal Kuwait, menyatakan bahwa uang diyat yang diterima oleh pihak ahli waris Almh. Sunenah sesuai putusan persidangan sebesar 43.300 USD.

 

Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, menjelaskan kepada keluarga pihak PMI selaku ahli waris, bahwa lamanya proses ganti rugi dikarenakan proses hukum membutuhkan waktu cukup lama dalam pembuktian kasus kecelakaan yang menimpa Sunenah. Pada umumnya, lembaga hukum di negara kawasan Timur Tengah tidak mudah menetapkan tersangka kepada pelaku yang menyebabkan terjadinya kecelakaan atau kasus apapun terkait adanya korban jiwa. Hal ini juga menyangkut sanksi hukum yang berlaku kepada tersangka.


“Mohon ma’af jika baru terealisasi sekarang terkait pemberian diyat ini kepada keluarga dari PMI almarhumah Sunenah, ini memang membutuhkan waktu yang sangat lama. Di negara-negara kawasan Timur Tengah, proses hukum untuk menetapkan tersangka kepada pelaku kecelakaan tidak mudah. Ini membutuhkan waktu yang lama karena sanksinya berat”, ujar Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid.

 

Nusron Wahid juga meminta kepada pihak keluarga PMI almarhumah Sunenah selaku ahli waris agar uang diyat yang diperoleh, dipergunakan sebaik mungkin. “Saya minta, supaya uang diyat ini nantinya dipergunakan sebaik mungkin, tidak untuk dihambur-hamburkan. Uang ini kan bagian dari amanah alm. Sunenah, jadi pergunakan untuk hal-hal yang penting saja, untuk kesejahteraan, seperti untuk membeli sawah”, lanjut Nusron.

 

Almarhumah Sunenah berangkat bekerja pada 28 Juni 2009 di Kuwait dan bekerja sebagai Domestic Worker dengan majikan Shulton Muhsin Hamud. Uang diyat diberikan kepada ahli waris keluarga Alm. Sunenah Bt Supardi dikarenakan Almarhum meninggal dunia pada 25 Mei 2011 silam akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam peristiwa yang terjadi tujuh tahun lalu tersebut, selain Sunenah, kedua keluarga majikan pun ikut menjadi korban pada kecelakaan lalu lintas tersebut. Atas izin keluarga dan bantuan perwakilan RI di Kuwait, jenazah Almh. Sunenah Bt Supardi dimakamkan di Kuwait serta dibantu pembayaran sisa gajinya.

 

Menurut penuturan pengacara Shuaib Al Kandari dari Kuwait, sejak 2015 sampai 2017, dilakukan persidangan atas tuntutan kepada pelaku penyebab terjadinya kecelakaan lalulintas.  Pengacara Shuaib Al Kandari menyampaikan kepada Humas BNP2TKI, bahwa pelaku kecelakaan terbukti bersalah dan wajib membayar uang diyat kepada ahli waris Almh. Sunenah. 

 

Selanjutnya, menurut Direktur Pelayanan Pengaduan BNP2TKI, Muhamad Syafrie bahwa majikan Almarhumah Sunenah, Shulton Muhsin Hamud meminta kepada pengacara, Shuaib Al Kandari, untuk menyerahkan secara langsung uang diyat kepada ahli waris dengan difasilitasi oleh Direktorat Pelayanan Pengaduan, BNP2TKI. Pembagian uang diyat dilakukan menurut syariat Islam dan akan ditransfer ke rekening masing-masing ahli waris sehingga seluruh ahli waris sejumlah 9 (sembilan) orang wajib membuka rekening bank.

 

Pihak keluarga PMI diwakili kakak kandung alm.Sunenah, Suhandi, mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak BNP2TKI selaku fasilitator yang telah membantu dalam proses pemberian ganti rugi ini, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik. “Kami selaku keluarga dari Alm. Sunenah sangat berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Nusron Wahid sebagai Kepala BNP2TKI dan Bapak Syafri serta semua pegawai yang  telah membantu memfasilitasi semua proses pemberian diyat ini, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu”, ungkap Suhandi.

 

Sementara itu, Kepala Bagian Humas BNP2TKI, Servulus Bobo Riti, menyatakan bahwa penyerahan uang diyat kepada para ahli waris pada hari ini, merupakan sebuah peristiwa kehidupan yang menarasikan perjalanan almarhumah Sunenah dari Cirebon dalam upaya untuk memperbaiki kesejahteraan sosial keluarga dengan cara menjadi pekerja migran, akan tetapi perjalanan hidupnya berhenti di Kuwait. “Ini juga merupakan bukti bahwa Pemerintah melalui BNP2TKI dan Perwakilan RI di Kuwait, tidak pernah berhenti melakukan upaya-upaya terbaik guna memperoleh hak-hak industrial dari almarhumah, sekalipun cukup menyita energy dan waktu,” tambah Servulus. *** (Humas)

 



Share: