Kepala BNP2TKI Jemput Nenek Jumanti, PMI 28 Tahun Putus Komunikasi

15 Mei 2018 11:11 WIB

Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid saat menjemput PMI Jumanti yang telah hilang kontak selama 28 tahun di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta, Senin (14/5/2018).
Jakarta, BNP2TKI, Selasa (15/5/2018)-- Puluhan tahun sudah Jumanti binti Bejo Nurhadi meninggalkan Indonesia. Sejak 1990, dia sudah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi.

Selama itu juga, wanita tua yang usianya diperkirakan 72  tahun tersebut tak pernah berhubungan dengan keluarganya di Tanah Air. Putus komunikasi total dengan keluarga di Jawa Timur. 

Namun, pada hari Senin (14/5) atas kerja sama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Jumanti yang lahir di Bondowoso itu bisa kembali menginjakan kaki di Tanah Air.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Jumanti mendarat di Terminal II Bandara Soekarno Hatta disambut langsung Kepala BNP2TKI Nusron Wahid dan diantar oleh Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Turut hadir beberapa pejabat dari Kemenlu, BNP2TKI dan Kedubes RI di Riyadh. 

Menurut Nusron, pemulangan Jumanti ke Indonesia ini atas kerja sama yang sangat baik antara   BNP2TKI dengan Kedubes RI di Riyadh dan pemerintah setempat serta Kementerian Luar Negeri.

“Kami telah menemukan nenek Jumanti yang sudah menghilang 28 tahun. Terima kasih kepada Pak Dubes dan jajaran KBRI Riyadh dan  Kemenlu yang sudah meringankan beban kami,” ujar Nusron kepada awak media di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Senin (14/5).

Nusron menambahkan, setelah tiba di Indonesia, secepatnya nenek Jumanti dibawa ke kampung halamam menggunakan pesawat.

“Besok - hari ini 15/5, pukul 10.20 kami terbangkan dari sini ke Surabaya baru diserahkan ke keluarga yang ada di Jember,” imbuh pria yang juga mantan anggota DPR ini.

Sementara nenek  Jumanti yang tampak sudah uzur hanya bisa duduk terdiam di atas kursi roda dengan wajah  yang tampak tenang.  Sesekali dia melayangkan senyum ke awak media yang memenuhi ruang CUL Bandara Soetta Tangerang.

Karena terlalu lama di Arab Saudi, Jumanti pun mulai tak fasih berbahasa Indonesia. Dia hanya mampu berbicara dengan bahasa Jawa dan Arab.

Meski sudah tua, Jumanti bisa tertawa karena candaan berbahasa Jawa yang dilontarkan Nusron kepadanya. “Seneng,” kata dia dengan nada kecil ketika ditanya perasaan pulang ke Indonesia.

Duta Besar Agus Maftuh yang juga merupakan Watapri untuk OKI menyampaikan kepada pers bahwa Nenek Jumanti adalah satu-satunya PMI  yang mendapatkan kesempatan penyerahan gajinya oleh majikannya disaksikan langsung oleh Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama Mohammad Al-Shuaibi di KBRI Riyadh beberapa waktu lalu. "Saat ditanya memilih manah untuk tinggal, apakah di Indonesia atau  Arab Saudi. Jumanti menjawab, di Arab Saudi bagus dan  Indonesia bagus," tegas Dubes Agus Maftuh.

Sementara itu terkait dengan latar penyebab putus komunikasi,  Jumanti hanya menganggukan kepala ketika ditanya soal kejadian apa saja yang dialami.

Sebelumnya Jumanti sempat viral di media sosial soal keberadaannya yang ada di Arab Saudi. Pasalnya, dia diduga telah meninggal dunia sejak lama karena tak ada kabar berita.

Atas hal itu, Jumanti bisa ditemukan kemudian ditangani dan tinggal di rumah singgah KBRI Riyadh sejak pertengahan April lalu.

Setelah berbagai proses, Jumanti akhirnya bisa dipulangkan dengan keadaan sehat walafiat. 

Kabag Humas BNP2TKI, Servulus Bobo Riti, yang ditemui di CUL Bandara Soetta menyampaikan bahwa apa yang dirasakan oleh PMI putus komunikasi selama 28 tahun ini hanya dirasakan yang bersangkutan.   "Hanya Nenek Jumanti yang paling tahu bagaimana suasana kebatinannya. Kita semua bersyukur atas peristiwa ini," imbuh Servulus. **(Humas)

Share: