Jenasah PMI Meninggal di Taiwan Akan Segera Dipulangkan

09 September 2018 08:30 WIB

Deputi Perlindungan BNP2TKI, Anjar Prihantoro Budi Winarso saat ditemui di ruang kerjanya, Direktorat Perlindungan BNP2TKI, Gedung BNP2TKI, Jakarta, Jumat (7/9/2018).
BNP2TKI, Jakarta, Jumat (7/9/2018)__Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mendapatkan informasi dari KDEI Taipei terkait adanya Pekerja Migran Indonesia (PMI) meninggal dunia karena sakit jantung pada Senin (20/8/2018) lalu di Taiwan. Mifthachul Ulum namanya (25), asal Lumajang, Desa Tegalsari, Kelurahan Tegalrejo, Tempursari, kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Sebelumnya (22/8/2018), pihak KDEI Taipei menerima informasi dari Agensi Human Resources bahwa, PMI Mifthachul meninggal dunia di Mess Pabrik di daerah New Taipei City, Taiwan. Kemudian berdasarkan penjelasan pihak Agensi pada (20/8/2018) sekitar pukul 17:00 waktu setempat, Mifthachul ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernafas lagi di dalam kamar mess. Pihak majikan kemudian memanggil petugas medis untuk memberikan pertolongan pertama, namun yang bersangkutan dinyatakan telah meninggal dunia. Pihak Kepolisian dan Kejaksaan New Taipei City langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Berdasarkan hasil visum jenasah Mifthachul Ulum tidak adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya.

Selanjutnya, pihak Kejaksaan meminta agar pihak Agensi segera melengkapi dokumen pemulangan jenasah. Terkait informasi ini, Deputi Perlindungan BNP2TKI, Anjar Prihantoro mengatakan bahwa pihak pemerintah (BNP2TKI) akan terus memonitor perkembangan prosedur kelengkapan dokumen pengiriman jenasah.

“Yang pasti kami (BNP2TKI) menghargai proses aturan yang ada di Taiwan terkait prosedur pemulangan jenasah Pekerja Asing terutama PMI yang meninggal disana. Akan berkoordinasi juga dengan Disnaker setempat dan pihak LP3TKI Surabaya utk fasilitas sampai ke kampung halaman almarhum", ujar Anjar saat ditemui di ruang kerjanya, di Ruangan Deputi Perlindungan BNP2TKI, BNP2TKI, Jakarta, Jumat (7/9/2018).

Terkait pengurusan dokumen pemulangan jenasah Mifthachul, pihak agensi Taiwan telah berkoordinasi dengan pihak PPTKIS di Indonesia. Namun, ternyata dokumen yang disiapkan masih terdapat beberapa kesalahan penulisan, dengan demikian KDEI Taipei kemudian berkoordinasi dengan instansi terkait di Indonesia untuk dapat melakukan pendampingan pengurusan Surat Kuasa pemulangan jenasah. Selanjutnya pada (4/9/2018) lalu, KDEI Taipei telah menerima dokumen dimaksud dan membantu menerjemahkan ke bahasa Mandarin serta melegalisasinya. Dokumen tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak Agensi dan diteruskan ke Kejaksaan New Taipei City untuk menurunkan surat kematian PMI Mifthachul Ulum sebagai persyaratan pemulangan jenasah ke Indonesia.

Diinformasikan juga bahwa, dikarenakan Almarhum Mifthachul meninggal dunia bukan disebabkan kecelakaan kerja sehingga tidak dapat mengajukan asuransi kematian. Oleh karena itu, biaya pemulangan jenasah sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku yaitu akan diambil dari Asuransi Tenaga Kerja (Astek). Adapun kekurangannya, pihak Agensi menyatakan bersedia membantu bersama pihak majikan dan pihak PPTKIS di Indonesia. KDEI Taipei mengharapkan instansi terkait di Indonesia dapat berkoordinasi dengan pihak PPTKIS untuk memastikan pemulangan jenasah PMI Mifthachul.

Permasalahan mengenai PMI meninggal dunia di negara penempatan baik karena sakit ataupun karena kecelakaan kerja bukan lagi masalah baru. Pemerintah tidak tinggal diam dan terus berupaya yang terbaik dalam proses pemulangan jenasah para PMI dan menghargai prosedur dari tiap-tiap negara penempatan para PMI tersebut. Anjar Prihantoro berpesan kepada para PMI yang saat ini sedang berada di luar negeri agar selalu menjaga kesehatan dengan baik, selalu waspada dalam bekerja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Ini sangat penting untuk selalu diingatkan kepada semua PMI yang ada di luar negeri ataupun calon PMI yang hendak berangkat, karena menyangkut keselamatan diri selama berada di luar negeri, agar bisa kembali ke tanah air sesuai dengan waktu yang ditentukan", tuturnya.

Anjar melanjutkan bahwa, hal lain yang perlu diperhatikan Calon PMI yang hendak bekerja ke luar negeri agar melalui prosedur yang benar. Apabila tidak melalui jalur yang jelas akan kesulitan dalam menangani jika ada kasus serupa atau kasus lain yang dialami para PMI tersebut. Juga, jika meninggal di luar negeri, tidak memperoleh asuransi kematian dan proses pemulangan jenasah juga membutuhkan waktu yang lama karena harus diverifikasi dokumen terlebih dahulu.

"terkait almarhum PMI Mifthachul, ia memperoleh asuransi dan difasilitasi sampai kepada serah terima dengan keluarga di kampung asal karena ia merupakan PMI prosedural. Ini hal yang penting untuk diketahui masyarakat luas terkait pentingnya jadi PMI prosedural", jelas Anjar. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua Calon PMI dan PMI untuk mengikuti prosedur yang jelas demi kebaikan diri sendiri. **(Humas/Lily/Agrit)

Share: