Bersinergi Dengan Instansi Terkait, BP3TKI Tanjungpinang Cegah Dua Orang PMI Non Prosedural

06 Februari 2019 17:15 WIB

Tanjungpinang, BNP2TKI, Rabu (6/2/2019)__Balai Pelayanan Penempatan dan Perindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang kembali  melakukan pencegahan terhadap dua orang Warga Negara Indonesia yang hendak bekerja di Malaysia tanpa melalui prosedur resmi. Satu orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) dicegah di Batam bersinergi dengan Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Kepolisian Daerah Kepulauan Riau di Pelabuhan Batu Ampar Batam, sedangkan satu PMI lagi dicegah petugas di helpdesk pelabuhan Tanjung Balai Karimun bersinergi dengan Imigrasi Pelabuhan Tanjung Balai Karimun.

Bermula pada Senin (4/2) BP3TKI Tanjungpinang melalui Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Batam menerima satu orang PMI non prosedrual  yang dicegah Polairud Polda Kepri yang hendak diberangkatkan oleh tekong menuju Malaysia di Pelabuhan Batu Ampar Kota Batam. PMI yang bernama Sri Agustina (20) diamankan oleh Polairud Polda Kepri ketika turun dari Kapal Penumpang Kelud milik Pelni. Bersama PMI turut diamankan satu orang laki-laki  bernama Dakhfin yang diduga berperan sebagai tekong yang mengatur proses keberangkatan PMI tersebut menuju Malaysia.

 Menurut Koordinator  Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia(P4TKI) Batam Titi Delima Panjaitan, pencegahan Polairud bermula dari adanya laporan kepada Polairud Polda Kepri dari salah seorang penumpang Kapal Kelud rute Belawan menuju Batam yang mencurigai Sri Agustina hendak diberangkatkan secara ilegal menuju Malaysia oleh seorang tekong bernama Dakhfin yang juga menumpang kapal yang sama. Menurut penumpang tersebut, Sri Agustina dipaksa oleh tekong untuk berangkat ke Malaysia meski sudah menolak tekong. Kemudian Sri meminta bantuan kepada saksi untuk membantunya melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib.  Laporan tersebut kemudian diproses oleh polairud dengan menurunkan petugas ke Pelabuhan Batu Ampar menunggu kapal Kelud bersandar. Setelah kapal bersandar di Pelabuhan, petugas langsung mengamankan dua orang yang dilaporkan dan dibawa ke markas Polairud untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Setelah lebih kurang 6 hari di markas Polairud, PMI Sri diserahterimakan kepada Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang melalui P4TKI Batam pada Senin (4/2) lalu, sedangkan tekong ditahan polisi untuk diproses secara hukum.

Sri Agustina sendiri saat dimintai keterangan menjawab bahwa benar rencananya ia akan berangkat bekerja ke Malaysia sesampainya ia di Batam dengan bantuan  Dakhfin (tekong) . Ia menjelaskan, saat awal ia berkenalan dengan Dakhfin, ia dijanjikan  akan bekerja secara resmi menggunakan permit atau visa kerja, namun tidak beberapa lama kemudian ia baru menyadari bahwa Dahfin hendak menipunya. “Saat di atas kapal dia (tekong-red) tidak dapat menunjukkan dokumen-dokumen bekerja yang dijanjikan, dari situ saya mulai curiga, tapi dia terus memaksa, akhirnya saya minta bantuan penumpang lain melaporkan kepada polisi” ungkap Sri.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Tanjungpinang Yohan Mariana menjelaskan bahwa pencegahan ini adalah kali kedua yang dilakukan bersinergi dengan Polairud Polda Kepri selama tahun 2019. “Sebelumnya bulan lalu (Januari-red) bersinergi dengan Polairud kami mencegah 47 orang Calon PMI non prosedural yang hendak berangkat lewat pelabuhan gelap” tutur Yohan. Untuk sementara waktu,menurut Yohan PMI Sri Agustina akan ditampung sementara di shelter P4TKI Batam dan menurut rencana akan difasilitasi pemulangan ke daerah asal di Langkat Sumatera Utara pada hari Rabu (6/2) menggunakan pesawat udara ke Medan.

Sementara di Tanjung Balai Karimun, BP3TKI Tanjungpinang melalui P4TKI Tanjung Balai Karimun juga mencegah satu orang PMI non prosedural bersinergi dengan pihak Imigrasi Pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Menurut keterangan dari Koordinator P4TKI Tanjung Balai Karimun Elsi Rosalia, PMI tersebut bernama Rohaya asal Medan Sumatera Utara. Elsi menjelaskan, pada awalnya PMI dicegah oleh pihak Imigrasi pelabuhan dengan alasan PMI tersebut sudah pernah di-blacklist oleh Imigresen Malaysia pada tahun 2003 dan dikategorikan Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI). Kemudian pada 1 Januari 2019 lalu, PMI Rohaya berniat kembali ke Malaysia melalui Bandara Kuala Namu dengan tujuan Kuala Lumpur, namun setibanya di Kuala Lumpur beliau ditolak Imigresen Malaysia dan ditahan selama tiga hari di Kuala Lumpur sebelum dipulangkan kembali ke Medan. Saat dipulangkan ke Medan, pihak Imigrasi Bandara Kuala Namu melakukan perekaman sidik jari dan memasukkan PMI ke dalam daftar pencekalan Imigrasi. Seperti tidak ada kapoknya, Rabu (6/2) Rohaya kembali mencoba masuk ke Malaysia, kali ini melalui Pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Disana, Rohaya kembali ditolak dan diserahkan kepada P4TKI Tanjung Balai Karimun untuk diproses lebih lanjut.

Mengenai pencegahan di Tanjung Balai Karimun, Kasi Perlindungan Yohan menyatakan pihaknya sudah menindaklanjuti hal tersebut dengan memerintahkan agar PMI segera difasilitasi pemulangannya. Fasilitasi pemulangan akan dikoordinasikan dengan P4TKI Tanjung Balai Karimun yang bertanggungjawab di lapangan. Yohan menambahkan, menurut rencana PMI Rohaya akan dipulangkan ke kampung halamannya Kamis (7/2) menggunakan pesawat udara melalui kota Batam.

 Menanggapi pencegahan terhadap dua orang PMI yang dilakukan jajarannya, Kepala BP3TKI Tanjungpinang Mangiring Sinaga mengatakan bahwa untuk kasus Sri Agustina yang dicegah di Batam, “Ia (Sri) masih beruntung  bisa diselamatkan sebelum dipaksa bekerja secara non prosedural ke Malaysia. Sebab banyak PMI yang dijebak tekong bekerja secara tidak resmi, kemudian nasibnya tidak jelas sesampainya di Malaysia, di antaranya ada yang tertangkap, kemudian dimasukkan ke tahanan selama berbulan-bulan mengalami penderitaan di tahanan, bahkan ada yang harus meregang nyawa karena sakit dan terlunta-lunta di Malaysia. Sudah banyak contoh kasus tentang PMI non prosedural ini yang secara langsung ditangani B3TKI Tanjungpinang” jelas Mangiring.

Mangiring meminta jajarannya untuk tetap menjaga sinergi dengan seluruh instansi terkait dan menjaga hubungan baik dengan semua stakeholders. “Kelancaran tugas-tugas kita di lapangan terkait koordinasi sangat tergantung dari sinergi yang dilakukan bersama partner kerja kita di lapangan, oleh karena itu hal tersebut harus tetap dijaga jangan sampai kendor” tutup Mangiring mengakhiri keterangan. (BP3TKI Tanjungpinang/Irf)
                

Share: