Halal Slaughtermen Pilot Project Penempatan PMI ke Selandia Baru

05 Maret 2019 14:41 WIB

Charge D’affrais New Zealand Embassy, Roy Fergusson, saat memberikan sambutan dalam acara penerimaan Calon PMI yang akan bekerja ke Selandia Baru, di Auditorium BNP2TKI Lantai 1, Jakarta, Senin (4/3/2019)
Jakarta, BNP2TKI (5/3/2019)___Badan Nasional Penempatan dan  Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia memulai pilot project penempatan  Pekerja Migran Indonesia (PMI) sektor Halal Slaughtermen untuk negara  penempatan  Selandia Baru. Peluang kerja ini merupakan hasil kegiatan Misi Dagang ke Selandia Baru pada bulan maret 2018 yang  diikuti oleh Deputi Bidang KLN dan Promosi, BNP2TKI dengan membawa beberapa P3MI untuk bertemu dengan mitranya dalam forum one on one meeting yang difasilitasi oleh Kemdag RI dan KBRI Wellington.

Sekretaris Utama BNP2TKI Tatang Budie Utama Razak menyatakan, ini merupakan pilot project  dan langkah awal  BNP2TKI  bekerja sama  dalam penempatan PMI  sektor pemotongan hewan halal. Dalam tahap pertama ini sebanyak 27 CPMI  yang akan diseleksi untuk memenuhi quota 20 orang dan mendapatkan pelatihan  halal Slaughtermen sebelum diberangkatkan.

“Saya yakin Anda adalah orang yang beruntung karena di tengah persaingan  global dan jumlah pengangguran yang  ada dimana-mana ,” jelas Sekretaris Utama BNP2TKI saat membuka  seleksi awal dan Pelatihan Calon PMI Halal Slaughtermen Penempatan Selandia Baru, di Auditorium BNP2TKI, Senin 4/3/2019.

Sestama BNP2TKI menyatakan,  CPMI yang akan bekerja ke Selandia Baru  akan sangat beruntung karena kana mendapatkan  gaji dan penghasilan tinggi.   

“Sekarang yang pasti tunjukan kalau Anda berhasil akan membawa BNP2TKI,  ini penting  sebagai pilot  project. Karena  Anda sebagai duta bangsa untuk menunjukkan bahwa Anda adalah  dari Indonesia yang profesional yang harus menjaga nama baik bangsa,” jelasnya

Kepada calon PMI, Tatang Budi Utama Razak meminta agar mematuhi aturan yang  berlaku di Selandia Baru. Sebelumnya bisa pelajari  kultur, budaya dan adat istiadat Selandia Baru, ini merupakan suatu tantangan apalagi para CPMI akan menerima uang besar  dan  harus tetap berhati-hati jangan konsumtif.

“Persoalan yang ada akan timbul ketika PMI menerima gaji besar, pengaruh dan perilaku biasanya berbeda dipengaruhi gaji besar, biasanya banyak tingkah laku. Selain itu para PMI harus waspada dari bahaya Narkotika dan radikalisme. Saya meminta bekerjalah  secara profesional dan jaga nama baik bangsa Indonesia,”  pungkas Sestema.

Roy Fergusson, Charge D’affrais New Zealand Embassy, menyatakan sangat bahagia bisa berada  di BNP2TKI, ini  merupakan  awal program  yang penting antara Indonesia dan  Selandia Baru. Saat ini Selandia Baru  yang baru-baru ini merayakan 60 tahun dari hubungan bilateral yang antara ke dua negara.

“Saya ingin mengucapkan selamat kepada Indonesia yang telah mengembangkan kerjasama penempatan PMI untuk jabatan halal slaughterer. Terima kasih BNP2TKI yang telah menjadi tuan rumah dari program ini. Sebanyak  120 pelamar akan kami review untuk mengisi jabatan halal slaughterer dan saya sampaikan selamat kepada kandidat yang telah berada disini hari ini,” jelasnya

Roy Fergusson  mengatakan setiap tahun, industri daging di  Selandia Baru membutuhkan sebanyak 200  orang di seluruh di Selandia Baru. Karena banyaknya kebutuhan, kami membutuhkan halal slaughter dari negara lain.

“Saya harap banyak dari para kandidat tersebut yang lulus dan bisa membantu kami memenuhi target sebagai halal slaughterer di negara kami. Selandia Baru merupakan negara kedua terbesar yang mengekspor produk-produk  daging. Indonesia masuk ke dalam 10 besar tujuan ekspor kami senilai 31 juta dolar pertahu,” katanya***(Humas/ MH/Lily/Lintang)

Share: