Ubah Pandangan mengenai Pekerja Migran

06 Maret 2019 14:49 WIB

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Padang, Dra. Lismia Elita, MM mengajak ratusan masyarakat Bukittinggi untuk merubah pandangannya mengenai Pekerja Migran Indonesia pada hari Selasa, 5 Maret 2019.
Padang, BNP2TKI (05/03/2019) - Pandangan mengenai menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  atau yang saat ini disebut dengan Pekerja Migran Indoensia (PMI) perlu dirubah. Perubahan pandangan tersebut disampaikan oleh Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Padang, Lismia Elita kepada masyarakat dan pencari kerja asal Bukittinggi pada hari Selasa, 5 Maret 2019. Anggapan buruk bawah PMI adalah pekerja kasar dan tidak memiliki keterampilan tidaklah benar.

“PMI tidak semuanya adalah pekerja rumah tangga, masih banyak jabatan atau jenis pekerjaan lain yang ditawarkan di luar negeri. Bekerja ke luar negeri pun bukan karena tidak mendapatkan kerja di Indonesia, namun merupakan pilihan untuk mendapatkan pengalaman dan kesejahteraan yang lebih baik. Jadi, jangan memandang buruk dan negatif ketika mendengar kata TKI atau PMI”, ujar Lismia kepada ratusan masyarakat yang hadir dalam kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman.

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sendiri memiliki skema penempatan Goverment to Goverment ke Jepang untuk jabatan nurse dan careworker. Dengan mensyarakat pendidikan minimal adalah S1/D3 Keperawatan dan juga dapat menguasai bahasa Jepang dasar yang dibuktikan melalui sertifikat N5.  Selain itu juga ada G to G ke Korea untuk bekerja pada bidang manufaktur, perikanan, kontruksi dan lainnya. Khusus untuk G to G ke Korea ini dapat dilamar oleh lulusan SMK/SMA, tanpa harus memiliki keterampilan khusus namun harus menguasi bahasa Korea dasar juga.

“Lowongan G to G ke Jepang dan Korea dibuka setiap tahunnya, namun masih sangat sedikit peminat dari kota Bukittinggi ini, padahal daerah ini memiliki lulusan kesehatan dan SMK/SMA yang cukup banyak. Sangat sayang sekali kalau kita tidak memanfaatkan peluang ini”, tambah Lismia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala Subdirektorat Kerjasama antar Lembaga, BNP2TKI Abri Dana Prabawa, bahwa lowongan pekerjaan ke luar negeri masih sangat banyak dan terbuka lebar bagi yang berminat. “Pada dasarnya terdapat beberapa skema untuk dapat bekerja ke luar negeri mulai dari G to G (Goverment to Goverment / Pemerintah ke Pemerintah),  P to P (Private to Private / Swata ke Swasta) , G to P (Goverment to Private) serta mandiri.

"Sehingga, setiap orang yang bekerja ke luar negeri dapat disebut sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI)”, ucap Abri.

Semenjak tahun 2015 hingga 2019, penempatan dari Pekerja Migran asal Kota Bukittinggi cukup kecil jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di Sumatera Barat. Pada tahun 2015 hanya terdapat 3 orang PMI asal Bukittinggi yang terdata di Sistem Komputerisasi Tenaga Kerja Luar Negeri (SISKOTKLN), begitu pula pada tahun 2016 hanya sebanyak 2 orang. Tahun 2017 hanya terdapat 3 orang dan pada tahun 2018  hanya terdapat 5 orang Pekerja Migran yang berasal dari Bukittingi. Angka tersebut hanya sekitar 1% - 2% dari jumlah pekerja migran asal Sumatera Barat.

“Angka data pekerja asal Bukittinggi yang berangkat ke luar negeri mungkin, sangat sedikit. Namun, masyarakat Bukittingi yang keluar negeri cukup banyak, hanya saja mereka sudah berangkat melalui kota-kota besar lainnya dan tidak dari daerah asal“ ungkap Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian Perdagangan dan Tenaga Kerja Kota Bukittinggi, Eryanson.
(Humas/bp3tkipdg/dba)

Share: